Namun, yang saya garis bawahi di sini adalah, dengan seiring kerap down, suguhan artikel (terbaru) menjadi terhambat. Savic Ali, Direktur NU Online dan Founder Islami.co, pernah berkata, yang penting dari media online (keislaman) adalah pengelola platform harus men-support dan terus menerus menyuplai tulisan. Dalam konteks ini, problemnya sekarang, bagaimana bisa menyuplai tulisan, bila website down? Ketika website normal, bagaimana menyuplai publish tulisan bila kualitasnya jauh dari layak? Ini yang menjadi tantangan tersendiri. Maka itu, poin ini berkelindan dengan poin kedua, supaya tulisan jadi lebih berkualitas, layak.
Kedua, segmentasi tulisan. Banyak kontributor yang mengeluhkan bahwa menembus duniasantri tergolong sulit. Hingga suatu waktu, saya menjumpai chat di grup meminta saran mengenai jenis tulisan yang di-publish itu seperti apa. Kesulitan-kesulitan yang dialami kontributor itu, acap kali membawanya pada kemalasan untuk menulis lagi. Dan, akhirnya pergi dari duniasantri.

Semua kesulitan itu pada dasarnya disebabkan oleh minimnya penelaahan pada tiap-tiap rubrik. Perlu diketahui, saya di awal-awal juga banyak yang ditolak, di kolom “pending” masih terpampang daftar tulisan yang tertolak. Dari situ saya belajar dengan membaca, mencermati, dan melahap tiap rubrik demi rubrik. Hingga akhirnya, pemahaman tentang segmentasi tulisan di duniasantri.co ini muncul.
Sebetulnya, admin duniasantri juga telah menambahkan secara bernas di grup (23/6), tulisan yang isinya mengulas; sejarah diwajibkan haji, makna ritual haji, amalan-amalan yang dianjurkan selama bulan haji, dan sejenisnya, tidak dipublish, karena tulisan itu sudah ada berabad-abad. Tak ada kebaruan. Selengkapnya bisa dibaca disini.
Ketiga, ihwal honor. Poin ini juga krusial. Ketika ada ungkapan yang mempertanyakan perihal honor terus menerus dalam grup, akan terbangun suatu pandangan dari kontributor lain (baru), bahwa duniasantri.co merupakan website yang sulit dalam klaim honor. Sehingga, yang tadinya tertancap ghirah menulis, karena bentuk apresiasinya besar; Rp 50.000, kemudian berangsur menyusut.

One Reply to “Kenapa Pijar Literasi dunisantri Redup”