Kepercayaan Pesantren Tidak Diwariskan

Kesan saya soal berkurangnya santri adalah catatan satu kunjungan saja. Banyak kemungkinan bisa menjelaskan sebabnya. Seperti, angka kelahiran menurun, biaya hidup, atau pilihan orang tua yang makin beragam. Menyalahkan semuanya pada pemberitaan kekerasan seksual belum dapat terbukti. Tetapi, soal keputusan orang tua untuk memilih kiranya perlu untuk digarisbawahi.

Selama puluhan tahun, orang tua menitipkan anak ke pesantren dengan kepercayaan penuh pada sosok kiai atau bu nyai. Masyarakat dibentuk selama beberapa tahun untuk percaya pada kebaikan yang diwariskan melalui nasab, juga percaya pada reputasi pesantren.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kepercayaan tersebut bersifat personal dan memiliki kekuatan besar. Ia kemudian melahirkan keikhlasan, pengabdian, dan ikatan batin yang hebat. Meski demikian, ia punya titik yang rapuh dengan menaruh kepercayaan pada integritas satu orang. Takzim, yang dalam bentuknya yang luhur adalah adab, bisa berubah menjadi struktur yang membungkam korban, saksi, bahkan orang-orang baik di sekitarnya.

Barangkali inilah yang sebenarnya diguncang oleh berita-berita itu. Bukan untuk meng-counter keyakinan bahwa pesantren mendidik dengan baik, melainkan keyakinan bahwa cukup percaya pada orangnya, sistem tak perlu ditanya. Dan sayangnya memang yang terjadi kebanyakan adalah demikian.

Dengan adanya kasus yang merebak, tidak sedikit berita saat ini menggeneralisasi perspektif tentang pesantren, seakan yang dinamakan “pesantren” adalah objek yang satu. Kepercayaan terhadap pesantren sepertinya tidak bisa kita nilai otomatis turun secara tiba-tiba, sebab tidak semua pesantren demikian.

Justru yang harus diperhatikan sebagai masyarakat pada umumnya adalah, kita perlu menggeser syarat. Berhenti untuk memberikan pengaruh yang terlalu banyak pada individu tertentu, mulai lebih banyak memperhatikan sistem.

Tinggalkan Balasan