Orang tua generasi sekarang, banyak di antaranya alumni pesantren sendiri, tidak berhenti mencintai pesantren. Mereka hanya mulai bertanya hal-hal yang dulu dianggap tidak sopan ditanyakan. Siapa yang bisa dilapori jika anak saya mengalami sesuatu? Apakah ada pihak di luar struktur pengasuh yang bisa menerima aduan? Bagaimana pesantren memperlakukan santri yang berani bicara?
Tentu pergeseran syarat ini bukanlah suatu tanda kebencian atau resistensi. Menurut saya, hal ini justru pertanda bahwa kepercayaan kita telah naik kelas. Kita tidak sedang mengandalkan garis keturunan, tapi menyorot kehendak dalam diri manusia. Pesantren yang menjawabnya dengan terbuka justru sedang memperkuat modal sosialnya.

Kita sudah memiliki UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU Nomor 12 Tahun 2022), dan Kementerian Agama juga menerbitkan aturan pencegahan serta penanganan kekerasan seksual di satuan pendidikan di bawahnya, yakni PMA Nomor 73 Tahun 2022. Persoalannya bukan ketiadaan payung hukum, tapi seberapa jauh payung itu benar-benar dibuka.
Saya kira ancaman terbesar bagi nama baik pesantren bukan berita atau film dokumenter. Ancaman terbesarnya adalah kesan bahwa pesantren lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga santri. Reaksi defensif, menyalahkan orang yang memberitakan, bahkan mengiming-imingi dengan ketakziman, atau menyuruh korban menutupi kesalahan yang justru menguatkan kecurigaan yang ingin dibantah.
Satu catatan terutama untuk diri saya sendiri. Kita sering merasa cukup dengan mengenang pesantren dengan hangat. Padahal justru kita, yang pernah tidur di kamar-kamar itu dan paham ritme sehari-harinya, yang paling mungkin mengenali celah yang tidak terlihat dari luar. Kita bisa mencintai dengan cara kita, mencoba membenahi kesalahan tanpa khawatir dituduh tidak sopan atau durhaka.
Maka ketika kepercayaan pada pesantren mulai dipertanyakan, jawabannya bukan ya atau tidak. Tapi, harus diakui bahwa kepercayaan itu sedang minta dibuktikan. Dan bagi lembaga yang sudah ratusan tahun bertahan di negeri ini, itu bukan ancaman. Itu tantangan untuk membuktikan kembali alasan mengapa orang percaya.

Mohon maaf Ning, itu foto dari pesantren saya, PPP Riyadlotul Uquul Maron Purworejo mau saya jadikan cover artikel juga.. 🙏