Keramat Gandasari

Dalam satu fragmen, Naskah Klayan, ia disebut sebagai putri dari pembesar Pasai yang masih punya ikatan saudara dengan Fatahilah. Mula-mula menerangkan ia dibawa oleh Pangeran Cakrabuana sepulang dari Mekah kemudian diserahkan kepada Ki Gede Selapandan. Dan diminta untuk tinggal di Panguragan –sebuah tamansari penuh bunga. Versi lainnya, dalam Babad Cirebon, ia adalah hasil tapa Ki Gede Selapandan. Ia menjelma dari bunga pudak yang jatuh ke tanah dan kelak sanggup memikat banyak lelaki dengan aroma tubuhnya.

Sebenarnya Gandasari bukan putri asal Aceh yang disembuhkan dari penyakit menahun oleh Pangeran Cakrabuana, lalu ikut dalam perjalanan ke Cirebon.Atau makhluk halus dari pohon pudak. Ia masih misan Seh Lemahabang, dan, ia lelaki sakti yang memotong kemaluannya, bernama Saptarengga. Untuk selamanya lebih senang dipanggil Nyi Mas Ratu Gandasari. Ia tak menitikkan air mata untuk itu. Maka ia pun menutup masa lalunya. Tubuh laki-lakinya yang membuatnya jijik dan ripuh.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kubayangkan diriku adalah perempuan,” kata Gandasari, “suci tak ada yang menyentuh.”

Itu kita temukan dalam Naskah Kuningan.

Naskah Mertasinga mengatakan saat usianya menginjak enam belas tahun, ia menjadi murid Sunan Gunung Jati, dan, kemudian hari ia memilih bertapa di tempat tinggalnya, meninggal, dan dimakamkan di sana. Panguragan.

 

Tapi Gandasari

Seperti Srikandi

Kau telah membuat dirimu dicintai

Meski, konon, hal-hal buruk akan datang, segalanya jadi guncang setelahnya.

 

Suatu waktu, seorang lelaki patah hati nekad ke makam Gandasari. Tujuh hari tujuh malam. Ia ingin membalas sakit hatinya, perasaan dicampakkan. Ia ingin bekas kekasihnya yang sudah jadi istri orang itu kembali kepadanya. Kalau tak bisa, hancur rumah tangga mereka, salah satunya mati.

Dan ketika ia pulang di hari ketujuh, ia pulang membawa segenggam tanah makam. Esoknya ia pergi ke rumah bekas pacarnya, ditaburkannya tanah itu. Selang beberapa hari kemudian ia mendapat kabar perempuan yang pernah dicintainya telah meregang nyawa. Tanpa gelimang darah.

Tinggalkan Balasan