Sepuluh pendekar centeng Belanda itu mulai waspada dan beberapa pendekar mengeluarkan pusaka mereka masing-masing. Suara benda tajam saling berdesing. Keris milik Mbah Jimar melayang-layang. Gerakan Mbah Jimar seperti angin. Beberapa kali Mbah Jimar menghalau pukulan dan melakukan serangan balik, sehingga membuat para pendekar-pendekar bayaran itu kalang kabut. Ada beberapa yang tewas, ada pula yang melarikan diri.
Mbah Jimar mendapat keris itu dari ritual penarikan gaib yang didapat dari pohon keramat di pesisir Tuban. Keris sakti itu konon adalah milik Adipati Ronggolawe.

Setelah beberapa bulan berguru kepada Mbah Jimar, Seto mendapat berbagai ilmu terutama tentang ajaran ketuhanan, kebatinan, olah kanuragan. Setelah digembleng Mbah Jimar, ia kembali ke Rembang. Dan Seto diwarisi keris sakti itu.
“Tugas pendekar adalah membela yang tertindas. Kau akan tak terkalahkan ketika kau membela kebenaran,” pesan Mbah Jimar, disusul oleh anggukan kepala dari Seto. Setelah berpamitan, Seto bergegas pulang menuju Rembang dengan berjalan kaki.
***
“Akhirnya kau kembali dengan cepat. Kami sudah menunggumu berbulan-bulan yang lalu. Belanda sudah menguasai seperempat daerah ini,” ucap salah satu teman seperjuangannya.
“Sebelum kita melakukan penyerangan, alangkah baiknya kita harus paham dengan kekuatan yang dimiliki musuh,” jawab Seto.
“Akulah yang akan menjadi mata-mata,” sambungnya.
Singkat cerita, ia mulai melancarkan aksinya dengan menyusup di markas musuh. Dengan cekatan ia mampu melompat dan bergerak seperti angin. Ia mengamati setiap kekuatan musuh. Dua orang tentara kompeni lewat di sebuah lorong, sementara ia harus melarikan diri agar tidak ada memancing keributan.
Ia melompati tembok besar dan segera bersembunyi agar tidak ketahuan oleh pasukan penjaga. Ia terus berlari sampai kemudian ia berada di ruangan khusus. Ia melihat seorang gadis cantik bersama dua pelayan sedang berada di kolam yang dipenuhi oleh bunga. Ia terpesona dengan kecantikan gadis itu. Dadanya bergetar. Pesona gadis itu menggetarkan hatinya. Baru pertama kali ia merasakan hal semacam ini.
“Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta?” gumamnya.
Gadis itu melihat Seto. Seketika ia dan kedua pelayannya berteriak. Tak lama kemudian penjaga segera berdatangan. Penjaga yang sempat Seto lihat tadi segera menyerang dengan senapan. Dengan gerakan seperti angin, ia memecundangi penjaga itu dengan satu kali pukulan, seketika terhuyung, kemudian roboh.
“Tenanglah, aku bukan orang jahat,” katanya.
“Orang jelata tidak seharusnya berlaku lancang memasuki ruangan ini!” ucap Delina Van Holman.
“Baru kali ini aku melihat gadis secantik seperti kau,” tanpa sadar ia mengucapkan kata itu. Kemudian ia berlari dan melompat tembok untuk melarikan diri.
***
Delina sering kali berbohong. Ia sering bolos les bahasa Inggris dan Prancis, padahal ia menemui Seto di padang rumput. Mereka berbaring di atas rumput sambil menatap langit biru dengan awan-awan yang berarak. Mereka seperti sepasang merpati yang terbang bebas, merasakan kebahagiaan yang tak terukur oleh kasta.
Hal itu diketahui oleh penggembala yang ada di padang rumput itu, lalu melaporkannya ke Tuan Holman. Seketika, ia sangat murka lalu ia mengutus puluhan tentaranya untuk menangkap pemuda itu.
