Tak begitu lama, rombongan pasukan kompeni itu sampai di padang rumput. Seketika mereka menodongkan senapan ke arah Seto. Ia mengeluarkan pusakanya. Keris itu menyala mengeluarkan cahaya kemerah-merahan. Ia membabat tentara kompeni, belasan musuh terbunuh.
Tuan Holman sudah mendengar kesaktian Seto, lebih tepatnya keris pusakanya. Ia memikirkan cara bagaimana ia bisa menangkap pemuda itu. Dahinya berkerut. Setelah memikirkan hal itu semalaman, alhasil ia menemukan cara untuk menangkap pemuda itu.

Keesokan harinya, Tuan Holman mengundang Seto ke rumahnya. Awalnya Tuan Holman merasa sangsi jika pemuda itu datang ke rumahnya. Tuan Holman menyambut dengan ramah ditemani oleh putrinya. Mata Seto berbinar saat melihat Delina yang begitu anggun dan cantik. Ia terpesona, sampai-sampai beberapa detik matanya tak berkedip. Delina melempar senyum kepadanya.
Tuan Holman mengetahui bahwa pemuda itu mencintai putrinya. Ia mengajukan kesepakatan dengan pemuda itu.
“Apa benar kau mencintai putriku?” kata Tuan Holman. Untuk sesaat Seto merasa gugup atas pertanyaan itu. Tetapi setelah itu ia berterus terang bahwa ia mencintai Delina.
“Benar, aku mencintai putri Tuan.”
“Benarkah?”
“Benar Tuan.”
“Kalau begitu, kamu akan memberikan segalanya untuk kebahagiaannya?”
“Iya Tuan, saya akan menjaganya seperti saya menjaga nyawa saya.”
“Baik, kalau begitu, aku akan merestui hubungan kalian tapi ada satu syarat. Kau harus memberikan mas kawin yang aku inginkan.”
“Apa itu Tuan?” tanya Seto, sedikit berdebar.
“Kau harus memberikan kerismu kepadaku,” ucap Tuan Holman bernada tinggi. Seketika Seto kaget mendengar persyaratan n itu. Ia terdiam, ada semacam pertentangan batin antara memberikan keris itu atau ia harus mengubur impiannya untuk menikahi gadis yang sangat ia cintai.
“Bagaimana?” kata Tuan Holman. “Kau juga dapat menikmati kekayaanku. Dengan begitu, kau dapat membantu rakyat yang kesusahan dan kelaparan,” sambungnya.
“Baiklah aku terima kesepakatan itu,” jawab Seto. Ia menyerahkan sebilah keris itu kepada Tuan Holman. Setelah diberikan keris itu, kemudian keris itu dibawa masuk oleh Tuan Holman.
Selang beberapa waktu, berpuluh-puluh pasukan mengepung Seto. “Ada apa ini?!” ucap Seto dengan nada tinggi. Pasukan itu sudah bersiap untuk menangkapnya, menodongkan senapan ke arahnya.
Awalnya Seto dapat melawan, namun ia terkena jaring yang membuat ia tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian Seto diseret lalu dijebloskan ke penjara bawah tanah.
