“Argh, meleset!” seru Asraf kecewa.
“Hah? Meleset??” tanyaku tak percaya, lantas memastikan. Ya, burung itu sempat terbang ke arah utara. Mata tajamku masih sanggup melihat gerakannya.

“Duh, padahal itu rangkong paling menawan yang pernah aku lihat! Gara-gara kamu, sih, Sar! Tidak menembak dengan benar. Mikirin saja itu jodoh, sampai-sampai rangkong itu kau sia-siakan!” dengus Asraf. Aku mengusap wajah. Tak kuhiraukan dengusan Asraf di sampingku. Dia terus saja menggerutu.
“Sar! Dengar aku ngomong atau tidak sih?”
“Sar!” dia menyikutku.
“Apaan, sih? Sar, Sar, Sar mulu dari tadi,” sahutku kesal. Dia tidak tahu kalau kepalaku sedang pusing memikirkan ke mana rangkong menawan itu pergi. Dia malah menggerutu dan menyalahkan aku, lalu mengaitkan dengan jodohku. Duh.
“Kamu kira pusar apa, hah? Kalo manggil yang jelas, nama lengkap. Keysar gitu. Jangan Sar-Sar. Dih, kesel aku,” aku berdecak sebal.
“Kau marah?” dia menaikkan bibirnya. “Tapi ngomong-ngomong soal pusar, kamu tahu tidak? Kata guru IPA- ku dulu pas SMP, pusar itu menyimpan jutaan bakteri di dalamnya. Bayangin Sar, di dalam tubuh…,”
“Heh! Tidak usah bahas yang tidak penting,” potongku risih. Aku heran pada temanku satu ini. Suka sekali membahas hal yang tidak penting. Cerewet sekali pemuda satu ini. Jika didengar lamat-lamat mirip sekali seperti mamak. Bahkan pernah suatu waktu kami semua sedang berkumpul makan siang di aula, Asraf dengan ringannya membicarakan tentang kotoran wombat yang berbentuk kotak. Seketika, wajah masam segera kami pasang untuk menatapnya. Rasa mual segera membungkus aula.
Splash!
Tiba-tiba siluet cahaya menyambar mataku. Tak salah lagi! Itu pasti burung rangkong julang emas. Bulu hitam dengan hijau metalik baru saja berkilau tertempa cahaya bulan.
“Ayo bergegas kawan!” Kini kakiku melangkah menyibak semak. Di saat yang bersamaan aku sambar ransel coklat yang teronggok bisu di dekat kaki.
Mata kami segera menyoroti tiap jengkal hutan ini. Kaki kami tak hentinya berlari. Melesat dengan cepat ke sana-kemari layaknya singa dengan derap langkah kaki gagahnya.
“Asraf! Nyalakan sentermu!”
Klik! Terdengar suara tombol senter dipencet. Sorot senter langsung menyinari sekitar. Pohon rimbun segera bermandikan cahaya menampakkan diri. Mata tajam kami kerahkan untuk menyisir hutan.
“Keysar, target ditemukan!” Aku menoleh saat Asraf tiba-tiba berseru. Tanganku tangkas menarik pelatuk.
Dor!
“Argh! Gagal!” Aku kembali berdecak sebal. Nyaris saja burung itu terkulai lemah. Hanya berselang beberapa detik, dia dengan gesitnya berpindah mengepakkan sayap.
