Kertas Lusuh dari Mamak

“Ratusan juta Sar!” cetus Asraf yang sejak tadi hanya berteriak-teriak memanas-manasiku.

Seharusnya dia membantu! Bukan hanya berpangku tangan saja! Arghh!!

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dor! Dor! Dor!

Tiga, empat, enam, delapan. Entahlah berapa peluru bius yang sudah kutembakkan. Setiap gerakan burung itu senapanku selalu memuntahkan pelurunya. Suara menyahut-nyahut memekakkan telinga.

“Keysar tahan tembakanmu! Suara itu bisa mendatangkan para polisi patroli jika kau membabi buta seperti ini!” cegah Asraf. Tapi apa gunanya? Amarah dan emosiku telah bercampur aduk menjadi satu. Temanku itu tak lagi kudengarkan. Kakiku telah melesat meninggalkannya, mengikuti ke mana burung itu terbang. Selagi tetap memuntahkan peluru bius ke angkasa.

Dorrrr!

Satu lagi peluru dimuntahkan senapan anginku. Saat kepalaku sibuk mendongak, tiba-tiba tubuhku tersungkur di antara rumput. Kakiku tergelincir kerikil. Kepalaku tak sengaja terbentur batu besar yang sejak tadi singgah di depanku.

“Argh!! Rangkong menyebalkan! Awas saja kau! Lain kali tidak akan kulepaskan!” aku berkata geram. Di selingi oleh amarah, aku mulai merasakan rasa sakit di kepalaku.

“Kamu kenapa, Keysar?” tanya Asraf cemas, dia baru saja menyusulku. Cahaya senternya segera menyilaukanku.

“Astaga! Pelipismu berdarah Sar,” katanya.

Ya, di saat yang bersamaan aku merasakan ada sesuatu mengalir dari pelipisku. Rasa perih tak terhindarkan. Kulepaskan gendongan ranselku, membuka resletingnya. Kuaduk-aduk isinya, berusaha mencari plaster yang dulu pernah kubeli di warung depan kos. Di saat sibuk mengaduk isi ransel, tanganku itu tiba-tiba menemukan kertas terlipat. Kertas apa ini? Aku tak pernah membawa kertas selama ini. Terakhir kali menyentuh kertas saat aku masih mencari pekerjaan sebelas tahun lalu, tepatnya saat umur delapan belas tahun. Lalu ini dari siapa? Aku menggernyitkan dahi.

“Sudah Sar, kamu tak perlu khawatir soal rangkong itu. Sudahlah, ikhlaskan saja. Tidak perlu melipat dahimu. Wajahmu tambah jelek, jodohmu makin jauh nanti,” Asraf berusaha bercanda. Tapi aku semakin penasaran pada kertas ini.

“Asraf, aku butuh cahaya sentermu. Tolong sorot bagian tanganku,” pintaku. Kertas lusuh berwarna kecoklatan itu kini terlihat jelas. Kubuka lipatan demi lipatannya. Tulisannya terlihat sedikit luntur oleh waktu. Telah berapa lama kertas ini berada di ranselku?

Rangkaian kalimat mulai terlihat, huruf demi huruf berubah menjadi kata, kemudian kata itu membentuk sebuah kalimat yang disusun sedemikian rupa. Bibirku mulai membaca surat lusuh itu.

[Untuk Keysar Ardito, putra semata wayangku. Mamak kini sudah tahu Nak apa pekerjaanmu di pulau sebrang sana. Bisnis ilegal? Pasar gelap? Penyelundupan? Istighfar Nak, itu haram Keysar. Kamu selama ini berbohong ke mamak dan bapak, bilang jika diterima menjadi sekretaris di salah satu perusahaan. Dan ternyata, saat bapakmu lima tahun lalu menjemputmu di pelabuhan bapak malah menemukan fakta hitam ini, tentang pekerjaan gelapmu, Sar. Oh anakku, sungguh gelap sekali jalanmu. Sangat jauh dari ajaran guru ngajimu, kau menggerogoti marwah negara ini.
Ke mana perginya ajaran mamak dan bapak dulu, Nak? Di mana ajaran Kiai Ahmed? Di mana Keysar yang rajin berbuat baik itu? Nak, sadarlah sayangku. Kamu terlalu jauh tenggelam di dunia gelap ini. Ayo Nak, kembali ke jalan yang benar. Kembalilah ke jalan yang dulu. Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat Keysar. Perbaiki semuanya. Temukan jalan terang itu. Jangan sampai pihak berwajib yang menghentikan langkah kelirumu ini! Aku sangat khawatir para polisi akan menangkap dan menjadikanmu sebagai pesakitan!
Mamak yang sangat menyayangimu.]

Badanku lemas seketika. Hatiku bergetar begitu kencangnya. Mamak, apa benar aku pergi sejauh ini? Sampai mamak menuliskan ini dan menyelipkannya untukku? Aku mengusap wajah. Kulihat ujung kertas lusuh berisi tulisan mamak itu, tertera tahun ditulisnya surat itu, yang di mana tahun itu pula mamak meninggal dunia karena sakit. Mamak meletakkan secarik kertas itu di dalam sebuah kotak makan yang diberikannya saat sakit itu. Malam ini adalah untuk pertama kalinya aku membawa kotak itu untuk membawa bekal. Sepertinya aku jatuhkan kertas itu di dalam ransel saat mau berangkat tadi. Ternyata mamak pernah menulis surat seperti itu untukku.

Kutatap kembali tulisan mamak yang tersinari senter. Mataku mulai sembab, aku menelan ludah. Di sekelilingku hutan ini semakin sepi, hanya sesekali terdengar suara lolongan serigala dari kejauhan. Bulan tak lagi menerangi, awan melindungi cahayanya. Gelap, aku baru sadar, sekelilingku gelap, seperti hatiku saat ini. Astaghfirullah, aku sungguh menyelami dunia hitam ini terlalu dalam. Sampai-sampai selaput gelap ini hampir saja membungkus seluruh hatiku. Maafkan anakmu ini, Mamak.

Tinggalkan Balasan