Kesepian dalam “Mata Pisau”

Bisa dibayangkan sehabis makan malam seorang diri, mungkin di rumah, mungkin di sebuah restoran (sebab perasaan kesepian tidak menutup kemungkinan terjadi di keramaian), si kau itu yang mungkin habis berpisah dengan kekasihnya, atau ditinggal oleh salah satu keluarganya, atau mungkin saja sehabis kehilangan istrinya, digambarkan begitu tercekam pada sebuah momen sehabis makan malamnya.

Mata pisau yang tak berkejap menatapnya, ia yang habis mengasahnya berpikir bahwa pisau itu untuk mengiris apel yang tergeletak di atas meja, namun si pisau justru berkilat (mungkin karena pisau itu telah diangkat oleh salah satu tangannya dan karena sedikit miring membuat bagian yang tajam itu terkena cahaya lampu sehingga berkilat) ketika terbayang urat lehernya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sekilas terbayang hubungan yang intens antara kau dan pisau. Keduanya seperti berkomunikasi atau berbicara satu sama lain. Tentu saja itu adalah serangkaian adegan, namun bisa dibayangkan bahwa pisau yang berkilat itu tidak terbayang oleh siapapun di ruangan itu, kecuali oleh si kau, kecuali dalam benak si kau sendiri.

Dari runtutan adegan itu saya membayangkan betapa kesepiannya si kau itu (apakah dia lelaki atau perempuan) yang makan malam sendirian, tanpa manusia yang akrab dengannya, tanpa pasangan yang mengerti, tanpa apapun yang memahaminya, seorang diri betul-betul, hanya ada kau (dirinya), sebuah apel di atas meja, dan pisau sehabis makan malam itu.

Kita sering merasakan di saat suasana kesepian datang, seakan benda-benda bicara kepada kita, seakan ia membangkitkan kembali ingatan kita tentang sesuatu, tentang luka, rindu, ketakutan, cinta, dan mungkin sekali putus asa pada hidup(?).

Tinggalkan Balasan