Kesepian dalam “Mata Pisau”

Sapardi Djoko Damono dengan begitu apik dan kuat menggambarkan keadaan manusia secara eksistensial, menghadirkan pertanyaan tentang arti sang liyan, tentang diri yang terdalam, tentang kecemasan dan ketakutan, tentang keterasingan oleh dunia yang jarang sekali disentuh atau dibicarakan oleh kebanyakan orang atau oleh penyair lainnya.

Di sini bisa saya simpulkan bahwa Mata Pisau adalah sajak tentang suasana kemencekaman manusia berhadapan dengan keterasingan dirinya yang tak terpahami, kekosongan yang minta diisi, dan saya yakin puisi ini akan membantu kita memahami kondisi kita dengan sublim, dan mungkin juga ikut membantu kita memperdalam pertanyaan tentang apa arti hidup? Apakah ia bermakna saat aku menikmati kesenangan sendirian? Apakah aku bahagia? dst.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebagai penyair hal yang paling sulit adalah bersabar untuk menangkap sesuatu yang hendak kita sampaikan kepada orang lain, pembaca, menyusun kata-kata yang paling tepat diletakkan dalam sajaknya sebelum menyerahkannya kepada mata (hati) sebanyak-banyaknya.

Dan sebagai pembaca kita pun harus bersabar menangkap apa maksud penyair, mungkin puisi itu tetap luput kita tangkap, tapi tidak menutup kemungkinan untuk kita masih bisa menghayatinya, memutar gambaran yang disajikan oleh kata-kata, dan meletakkan diri kita di antaranya untuk meresapi aliran maknanya.

Seperti yang sudah saya tulis di awal, penyair memasuki wilayah yang penuh kemungkinan, yang rahasia dan misteri, yang baru dari pengalamannya dengan kepekaan yang subtil bahkan sublim, sampai kata-kata menemukannya berdiri di sana, terpaku menyaksikan keindahan. Dan ketika ia pulang membawa puisinya, pembaca pun menggantikan posisi si penyair sebelum menuliskan puisinya itu, penyair yang berdiri memaku ketika mengalami fenomena itu. Sekian.

Tinggalkan Balasan