“Benarkah yang paling sulit setelah selamat adalah membuat orang lain percaya bahwa kita memang tidak bersalah?”
Pertanyaan itu terus muncul setiap kali saya membaca kembali kisah Sinta dalam Ramayana. Anehnya, tokoh yang diculik justru menjadi sosok yang paling menjadi sorotan dan dipertanyakan. Rahwana sudah jelas melakukan kejahatan dengan menculik perempuan yang bukan haknya, namun perhatian banyak orang justru beralih pada satu hal: apakah Sinta masih suci?

Padahal, dalam banyak versi kisah dari Ramayana, Rahwana tidak berhasil menyentuh Sinta tanpa persetujuannya. Hal itu bukan berarti Rahwana layak dipuji. Penculikan tetap merupakan bentuk kekerasan dan pelanggaran terhadap kebebasan seseorang.
Namun, fakta ini memperlihatkan sesuatu yang menarik. Kesalahan atau dosa pelaku sering kali kalah ramai dibanding rasa ingin tahu masyarakat terhadap “kehormatan” korban.
