Ketika Agama Menjadi Tumbal Kapitalis

Indikasinya, saat ini, bahkan jauh pada tahun sebelum-sebelumnya, akuisisi tanah marak terjadi di Madura, utamanya di pesisir pantai Sumenep. Naifnya, sekarang diisukan akan menjamah ke pegunungan dengan agenda penambangan fosfat.

Tercatat, pada tahun 2016 sebagaimana dikatakan oleh KA Dardiri Zubairi dalam buku Rebutan Lahan di Pesisir Pantai Sumenep dengan mengutip majalah al-Fikr, perampasan tanah atau yang sering disebut sebagai land grabbing terus mengalami peningkatan. Bagaimana tidak, dalam jangka waktu satu tahun—2015 sampai 2016—akuisisi tanah meluas menjadi sekitar 500 hektare.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebelum membahas lebih jauh bagaimana agama dimanfaatkan dalam praksis kapitalis akhir-akhir ini, agak menarik kiranya jika kita mengulas kembali teori atau perspektif Huub de Jonge, peneliti dari Belanda, yang sempat mendefinisikan Madura dalam salah satu kajiannya.

Masyarakat Madura, yang dalam teori klise digambarkan sebagai masyarakat terbelakang, kolot, dan jauh dari peradaban juga sengaja dibingkai oleh Huub dalam tulisannya tersebut. Hanya saja, Huub menarasikannya dalam bentuk yang lebih halus, lebih jauh dari narasi pengundangan sensitivitas.

Dalam kajiannya ketika meneliti ke-Madura-an, Huub mengatakan bahwa orang Madura sebagai pekerja yang baik, rapi, dan buruh yang bisa dibanggakan. Tentu, jika kita lebih peka memandang setiap interpretasi kalimat atau tulisan Huub tersebut, kita akan melihat sisi gelap dari bahasa yang seolah dibingkai seakan-akan terlihat manis. Masyarakat Madura itu memiliki bakat yang mengesankan, begitu kira-kira.

Namun nyatanya, pada sisi paling substansial, Huub hendak menyampaikan bahwa masyarakat Madura hanyalah kaum buruh yang sangat pantas dipekerjakan. Meskipun hal itu lebih baik dari teori orientalis yang mengatakan Madura hanyalah lahan tandus dengan penduduk yang urakan, namun jangan pernah dialpakan dari keyakinan bahwa narasi Huub sebenarnya juga menggambarkan keterbelakangan Madura dengan bahasa yang lebih sopan.

Tinggalkan Balasan