Sederhananya begini, Huub De Jonge ingin membingkai kenyataan bahwa masyarakat Madura berada pada kalangan masyarakat proletar, kaum terbelakang, dan kaum yang mudah dimanfaatkan. Lebih dari itu, dia juga ingin menarasikan bahwa masyarakat Madura memiliki stratifikasi sosial kelas bawah. Namun, pesan tersirat itu seolah sengaja dia bingkai dengan sangat elegan.
Pernyataan-pernyataan tersebut—sejak teori orientalis sampai pernyataan Huub—memberikan proposisi pada orang luar bahwa masyarakat Madura adalah kalangan yang sangat mudah dimanfaatkan, tidak paham apa-apa kecuali hanya bisa menjadi buruh.
Narasi-narasi demikian juga diduga kuat menjadi keyakinan dan senjata halus kaum kapital ketika akan menduduki tanah-tanah subur di Madura. Kaum kapitalis menemukan sebuah celah yang memberikan peluang besar dalam masyarakat Madura sendiri. Salah satu yang paling kontras terjadi adalah melalui media agama.

Para kaum kapitalis tidak akan kehabisan cara dalam menyasak tanah-tanah yang menjadi target mereka. Perpindahan kepemilikan adalah hal yang mereka harapkan. Maka, salah satu yang dijadikan alat pembantu adalah melalui agama.
Kemasan yang dihadirkan beragam. Beberapa kapitalis atau investor sengaja mengundang tokoh masyarakat untuk berdialog dengan masyarakat agar tanah mereka bisa dilepas. Hal ini menjadi alat kuat, terlebih tokoh masyarakat dalam masyarakat Madura menjadi orang yang berpengaruh dan paling disegani.
Mereka (para tokoh masyarakat itu) akan mendatangi si pemilik tanah yang menjadi target dan membujuk mereka untuk melepaskan tanahnya. Cara membujuknya pun indah, yakni dengan kedok menjalankan rukun islam yang kelima, naik haji. Tak bisa dibantahkan, harga yang ditawarkan pemilik modal memang relatif besar, cukup untuk berangkat haji sekeluarga.
Ini membuktikan bahwa bumbu agama akhir-akhir ini kian diminati untuk beragam kepentingan. Masyarakat agamis—yang biasanya suka pada taqlid—adalah sasaran empuknya. Mereka akan dimanfaatkan dengan sajian agama yang disajikan. Tindakan profan jelas terlihat dalam kasus demikian.
