Ketika AI Menjawab, Sanad Ditinggalkan

Pada Juli 2026, jagat maya dihebohkan oleh sosok “Ustazah Nia Hajar” yang viral di TikTok dengan jutaan pengikut. Ia berceramah, menjawab persoalan hukum agama, tampil meyakinkan layaknya dai berpengalaman. Namun, ada satu fakta mengejutkan: sosok itu tidak pernah benar-benar ada. Ia sepenuhnya rekayasa kecerdasan buatan (AI).

Yang membuat sosok ini berbahaya bukan sekadar bahwa ia palsu, melainkan skala jangkauannya. Jutaan pasang mata menyaksikan dan menyimak, tanpa banyak yang mempertanyakan dari mana sebenarnya “ilmu” itu berasal. Generasi muda yang tumbuh di tengah arus ini perlahan terbiasa memandang ilmu agama sebagai sesuatu yang instan: cukup ketik pertanyaan, jawaban pun keluar.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Fenomena ini membuat kita perlu kembali pada satu prinsip yang telah dijaga ketat sejak generasi awal Islam. Dalam Muqaddimah Shahih Muslim, Imam Muslim mengutip perkataan Ibn al-Mubarak,

الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Isnad adalah bagian dari agama. Andai tidak ada isnad, niscaya siapa saja bisa berkata sesuka hatinya.”

Kalimat ini seolah ditulis untuk zaman kita. Tanpa sanad, tanpa mata rantai yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan, pintu untuk “berkata sesuka hati” atas nama agama terbuka lebar.

Namun saya tidak perlu jauh-jauh mencari contoh ke jagat maya. Sebagai mahasiswa yang kesehariannya bergelut dengan ilmu agama, sekaligus mahasantri yang setiap malam menyimak kajian kitab turats dari teman-teman, saya menemukan gejala yang sama, hanya dalam wujud yang lebih halus.

Tidak sedikit dari mereka, ketika menjelaskan sebuah persoalan, penjelasannya jauh dari kebenaran yang semestinya. Setelah ditelusuri, ternyata banyak yang langsung membuka AI agar cepat selesai tanpa pernah menyentuh kitab aslinya, apalagi menanyakannya kepada guru.

Rantai Pertanggungjawaban

Selama lebih dari 14 abad, umat Islam berhasil menjaga keaslian ajarannya di tengah derasnya arus riwayat-riwayat palsu dan klaim-klaim yang tidak bertanggung jawab yang terus bermunculan dari masa ke masa. Rahasianya bukan pada teknologi atau kecanggihan alat pencatat, melainkan pada satu hal yang dijunjung tinggi sejak generasi pertama: sanad — sebuah sistem yang tidak hanya mencatat siapa berkata apa, melainkan memastikan ada pihak yang bisa dimintai tanggung jawab atas setiap kata yang disandarkan kepada agama.

Sufyan ats-Tsauri pernah menegaskan betapa vitalnya kedudukan ini dengan sebuah perumpamaan yang tajam: “Sanad adalah senjata bagi orang mukmin. Jika ia tidak memiliki senjata, lalu dengan apa ia akan berperang?” (Manhaj al-Imam al-Bukhari, 1422 H).

Sanad, dengan kata lain, bukan sekadar formalitas akademik, melainkan alat pertahanan diri seorang penuntut ilmu dari kesesatan dan kekeliruan riwayat. Dan ketika kita menyerahkan pertanyaan agama begitu saja kepada mesin, sesungguhnya kita sedang maju berperang melawan ambiguitas ilmu tanpa membawa senjata sama sekali.

Bukan berarti AI harus dijauhi sama sekali. Yang perlu diluruskan adalah cara memperlakukannya. Alih-alih bertanya “apa hukum ini?” atau “bagaimana penjelasan tentang itu?” akan lebih aman jika kita bertanya “kitab apa yang membahas ini?” Atau “siapa ulama yang berkompeten dalam permasalahan ini?”

Dengan begitu, AI kembali pada posisinya yang semestinya, yaitu sebagai penunjuk arah menuju sumber, bukan sumber itu sendiri. Jawaban akhirnya tetap harus dijemput sendiri, dari kitab aslinya, atau lebih baik lagi, dari guru yang sanadnya bisa dipertanggungjawabkan.

Penuntut ilmu sejati tahu bahwa ilmu bukan sekadar informasi yang sampai ke kepala, melainkan amanah yang diwariskan dari hati ke hati, dari guru ke murid, dengan sanad yang menyertainya. Oleh karena itu, sebelum bertanya pada mesin, bertanyalah dulu pada diri sendiri: siapa guru yang akan aku mintai pertanggungjawaban atas ilmu ini kelak di hadapan Allah?

Tinggalkan Balasan