KH Ahmad Mustofa Bisri

Alangkah panjang ini penantian

Alangkah dangkal muara perjumpaan

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Alangkah sayup senandung syairan

Sesayup jejakmu, jauhi kegaduhan

 

Aduhai Ahmad Mustofa Bisri

Ke Multazam, ratapmu bersurai

Kecupan hangat rindu bersemi

Kekasih hati kekasih sunyi

 

Kaukah tembang gandrung kalbu

Ketukan senyap nada sendu

Kaukah kasih berkerudung biru

Ke muka pintu seangin lalu

 

Bilalah benar kabarkan padaku

Biar kutulis kisah untukmu

Bilalah tidak isyaratkan padaku

Biar kutumpahkan puisi rinduku

 

Lirik mahabbah sendu beralun

Lili kelopak di pagi berembun

Lirik cinta tak kuasa kususun

Lirik dan nada terasa ngungun

 

Ke dalam diri nada dan lagu

Khusyuk menderas putih cintamu

Kepada ibu batinku berseru

Kenapa cintaku b’rujung pilu

 

Akulah tembang laras ibunda

Api cintaku menyala-nyala

Asapi pandangan penuh ra’hsia

Antarkan kasih pinangan Kanda

 

Tapi siapa tasbihkan samsara

Tak ‘kan perih beserpih di dada

Terasa lara mendera jiwa

Tinggallah aku semakin fana

 

Kekasihku, di jalan ada perjumpaan dan sua kembali.

Tetapi kita berjalan sendiri-sendiri.

Kubawa ragaku menempuh kemegahan Suluk,

dan kamulah tembang laras Suluk itu.

Kau mengira aku pergi,

padahal aku mengembara di dalam dirimu[6].

 

Kita ‘kan terus nadhomkan cinta

Kinanti usia nyala asmara

Kemana mesti kedipkan mata

Ketika cinta berujung duka

 

Biarlah diri jauh mencari

Berselempang sorban sulaman diri

Betapa, Ahmad Mustofa Bisri

Berat meniti kesunyian hati

 

Ya, Ahmad Mustofa Bisri

Ke Multazam, ratapmu suci

Basah kecupan rindu bersemi

Cintamu derai kasihmu sunyi

 

Surat cintamu putih berserat

Susuri diri di malam k’ramat

Serak dan parau tiadalah nikmat

Sendulah kalbu ditinggal hasrat

 

Maka biarlah kekasih hati

Meskipun lebam luka di diri

M’rana sendiri hari jalani

Menembus lapis musim berganti

 

Ibu, kau tahu rahasia buyung

Ilahi bersuar iringi jantung

Isyaratkan bagi diri bingung

Inikah kehendak Ilahi Agung

 

Ibu Kaulah gua teduh

tempatku bertapa bersamamu sekian lama

Kaulah kawah dari mana aku meluncur dengan perkasa

Kaulah bumi yang tergelar lembut bagiku

melepas lelah dan nestapa gunung

yang menjaga mimpiku siang dan malam

mata air yang tak brenti mengalir

membasahi dahagaku telaga

tempatku bermain berenang dan menyelam.[7]

 

Adikku gandrung dan terluka

Akan bersua kekasih jiwa

Arifi gerak g’lombang asmara

Akankah cinta jadi angkara

 

Wahai Ahmad Mustofa Bisri

Ke Multazam, ratapmu suci

Basah kecupan rindu bersemi

Cintamu menderai kasihmu sunyi

 

Asytaghfirullah Robbal baroyah

asytaghfirullah minal khotoyah

Robbi zidni ‘elman nafi’a

Wawafiqni ‘amalan maqbula

 

Ya, Allah huya Muhammad

Ya, Abu Bakrinissidiq

Ya, ‘Umar Utzman wa’ali

Sitti Fatimah binti Rosuli

 

Dengan berbunga kubawa raga

Dekaplah wahai belahan jiwa

Denyut cintamu mrasuk sukma

Dikaulah mawar mekar di dada

 

Langitku biru lautku biru

Luhur kasihmu, wahai istriku

Luruhkan cokelat layu kalbuku

Lekaslah sayang, peluklah aku

 

Perahu cintaku tak retak lagi

Pusaran gelombang tiada arti

Pupus asmara kenangan menepi

Perih di nadi sudah terobati.

 

[1] Kitab Tafsir Al-Ibriz atau al-Ibrîz li Marifat Tafsîr al-Qurân al-Azîz adalah kitab tafsir al-quran yang ditulis oleh Mbah Khlil Bisri, ayah Ahmad Mustofa Bisri. Adapaun kandungan dalam kitab tafsir Al-Ibriz adalah tafsir terhadap surat-surat dan ayat-ayat al-quran dengan penulisan bahasa Jawa.

[2] Gus Mus adalah panggilan akrab Kiai Ahmad Mustofa Bisri. humanis.

[3] Kiai Mahrus Aly adalah ulama terkemuka Indonesia yang lahir di dusun Gedongan, kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dari pasangan KH Aly bin Abdul Aziz dan Hasinah binti Kyai Said, 1906 M.

4] Inul atau Inul Daratista  adalah penyanyi dangdut Indonesia. Penyanyi yang dikenal dengan goyang ngebor ini menunai kontoroversi. Di tengah-tengah kontroversi itulah, Gus Mus menggelar pameran lukisan dengan judul “Berdzikir Bersama Inul”. Lukisan dipamerkan di ruang Ash-Shofa Masjid Agung Al-Akbar Surabaya, Jawa Timur.

[5] Batsul Masail adalah forum yang membahas suatu permasalahan yang berkaitan dengan persoalan hukum (fiqih) dan masalah-masalah keagamaan (al-masailud-dinyah)

[6) Dikutip dari Serat Chentini

[7] Dikutib dari Puisi “Ibu” karya Ahamd Mustofa Bisri

Tinggalkan Balasan