KH Ahmad Mustofa Bisri

 

Duhai Mustofa, penyair perupa

Dari Madura namamu kueja

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di tepian jantungmu kubawa

Di larung syair Indonesia

 

Di ujung alief fajar nun mekar

Di ujung semadi puisi bersinar

Dendang nazaman di hati nanar

Di baris mantra hizib akbar

 

Bayangan diri sesakti Khidir

Gus Mus pagari diri Kiai

Tembusi lapis semesta lahir

Dengan bayangan sang musafir

 

Kiai Ahmad Mustofa Bisri

Tepikan prahu lesatkan diri

Ke bukit Lirboyo, Gus Mus, mendaki

Mencari berkah, Mbah Marzuqi

 

Sembilan tangga jenjang kiai

Sembilan suluk khasiat wali

Ke Kediri, Gus Mus, trus mencari

Sosok petapa raga dan hati

 

Bersama Ibriz renungan Abah

Gus Mus suluhi aksara rahasia

Renungi jejak Bisri Mustofa

Gamang hati kitari karomah

 

Senyum kiai terus mengembang

Lembaran Ibriz jadi selendang

Di muka guru takzim diretas

Di jantung malam kitab dideras

 

Aduhai, Ahmad Mustofa Bisri

Pohon usia tak henti panjati

Berkalung tasbih mantra gaib

Samarkan wujud dengan hizib

 

Bertahun sudah, Gus Mus, terkepung

Di dalam hutan aksara tebu

Mencecap manis ilmu sang guru

Dibatsul masail[5] ilmu dijunjung

 

Lirboyo tiada henti bertadarus

Deras rimbun aksara kehidupan

Menguak rimba titi keheningan

Membelai hangat Kiai Mahrus

 

Gus Mus ikuti saudara sekandung

Menujum awan tepis mendung

Di jalan, Gus Mus, siap tarung

Berterompa kayu melepas sarung

 

Tiadalah orang bersalam muka

Diri terbang sekelebat angin

Gus Mus lah sakti tiada dua

Di hadapan Abah tunduk dingin

 

Aduhai Ahmad Mustofa Bisri

Perahu layari lautan puisi

Geladak sajadah dayung bahasa

Seberangi Sembilan laut ulama

 

Wahai Ahmad Mustofa Bisri

Terimalah salam takzim santri

Lewat nadhoman dan puisi

Nyanyian santri nahwu emriti

 

Luluh runtuh pesantrenku sudah

Ditinggal berlari pendaki alim

Acuhi kaum takzim dan talim

Kopiyah, sarung, tasbih, dan madrasah

 

Santri gamang di jalan ulama

Madah syair terdengar samar

Hinggap dan senyap dalam belukar

Bila kiranya balagha menggema

 

Ini syair salam santri

Sepoi sepi penyair Kiai

Aduhai, Ahmad Mustofa Bisri

Mari melagu kerinduan hati

 

Dari Madura aku berlari

Iringi Ahmad Mostofa Bisri

Meniti sunyi jembatan puisi

Di jantung hari majelis santri

 

Lara hitam langit kelam

Payungi jalan puisi gamang

Takjub hati fajar membayang

Dalam lipatan sarung bersulam

 

Di langit Rembangmu, Gus Mus, keheningan batin nanar terbakar, mawar cintamu sunyi tak mekar. Lagu-sendu-lagu menggema dari pangkalan dan pematang, dari rumah-rumah tak berpintu–tak berpalang.

 Ya, iya, siapa tahan orangnya dalam dekapan ombak, tidur berbanjar beralas geladak. Ya, iya, siapa tahan mengukir kobaran rindu di jenjang anjungan, melipat rengsa layar badai dalam kesunyian.

 

Wahai, Kiai Bisri Mustofa

Wahai, Kiai Cholil Bisri

Kiai Bisri, Kiai Mustofa

Kiaiku, Ahmad Mustofa Bisri

 

Rembang dibayang ombak gulita

Merana hati tergerus lara

Pelaut petani didera sengsara

Di punggung musim luka menganga

 

Di dalam lumbung, di pelabuhan kelam

Kotamu, kiai, berselempang langgam

Payang biru pinjaman rentenir

Padi biru mendesir getir

 

Pelaut berbanjar beralas kayu

Petani berselimut panen layu

Deru hasrat menggeliat linu

Di atas perahu dan sawah bisu

 

Lautmu, Kiai, berombak pasang

Pelaut berbantal arus gelombang

Pundakmu, Kiai, pikuli beban

Dari lereng bukit hingga lautan

 

Ke mana sakal hembuskan harap

Ke gumuk ataukah ke bilik langgar

Teratak lumbung anyaman lontar

Terbangkan hasil panen senyap

 

Tinggalkan Balasan