Duhai Mustofa, penyair perupa
Dari Madura namamu kueja

Di tepian jantungmu kubawa
Di larung syair Indonesia
Di ujung alief fajar nun mekar
Di ujung semadi puisi bersinar
Dendang nazaman di hati nanar
Di baris mantra hizib akbar
Bayangan diri sesakti Khidir
Gus Mus pagari diri Kiai
Tembusi lapis semesta lahir
Dengan bayangan sang musafir
Kiai Ahmad Mustofa Bisri
Tepikan prahu lesatkan diri
Ke bukit Lirboyo, Gus Mus, mendaki
Mencari berkah, Mbah Marzuqi
Sembilan tangga jenjang kiai
Sembilan suluk khasiat wali
Ke Kediri, Gus Mus, trus mencari
Sosok petapa raga dan hati
Bersama Ibriz renungan Abah
Gus Mus suluhi aksara rahasia
Renungi jejak Bisri Mustofa
Gamang hati kitari karomah
Senyum kiai terus mengembang
Lembaran Ibriz jadi selendang
Di muka guru takzim diretas
Di jantung malam kitab dideras
Aduhai, Ahmad Mustofa Bisri
Pohon usia tak henti panjati
Berkalung tasbih mantra gaib
Samarkan wujud dengan hizib
Bertahun sudah, Gus Mus, terkepung
Di dalam hutan aksara tebu
Mencecap manis ilmu sang guru
Dibatsul masail[5] ilmu dijunjung
Lirboyo tiada henti bertadarus
Deras rimbun aksara kehidupan
Menguak rimba titi keheningan
Membelai hangat Kiai Mahrus
Gus Mus ikuti saudara sekandung
Menujum awan tepis mendung
Di jalan, Gus Mus, siap tarung
Berterompa kayu melepas sarung
Tiadalah orang bersalam muka
Diri terbang sekelebat angin
Gus Mus lah sakti tiada dua
Di hadapan Abah tunduk dingin
Aduhai Ahmad Mustofa Bisri
Perahu layari lautan puisi
Geladak sajadah dayung bahasa
Seberangi Sembilan laut ulama
Wahai Ahmad Mustofa Bisri
Terimalah salam takzim santri
Lewat nadhoman dan puisi
Nyanyian santri nahwu emriti
Luluh runtuh pesantrenku sudah
Ditinggal berlari pendaki alim
Acuhi kaum takzim dan talim
Kopiyah, sarung, tasbih, dan madrasah
Santri gamang di jalan ulama
Madah syair terdengar samar
Hinggap dan senyap dalam belukar
Bila kiranya balagha menggema
Ini syair salam santri
Sepoi sepi penyair Kiai
Aduhai, Ahmad Mustofa Bisri
Mari melagu kerinduan hati
Dari Madura aku berlari
Iringi Ahmad Mostofa Bisri
Meniti sunyi jembatan puisi
Di jantung hari majelis santri
Lara hitam langit kelam
Payungi jalan puisi gamang
Takjub hati fajar membayang
Dalam lipatan sarung bersulam
Di langit Rembangmu, Gus Mus, keheningan batin nanar terbakar, mawar cintamu sunyi tak mekar. Lagu-sendu-lagu menggema dari pangkalan dan pematang, dari rumah-rumah tak berpintu–tak berpalang.
Ya, iya, siapa tahan orangnya dalam dekapan ombak, tidur berbanjar beralas geladak. Ya, iya, siapa tahan mengukir kobaran rindu di jenjang anjungan, melipat rengsa layar badai dalam kesunyian.
Wahai, Kiai Bisri Mustofa
Wahai, Kiai Cholil Bisri
Kiai Bisri, Kiai Mustofa
Kiaiku, Ahmad Mustofa Bisri
Rembang dibayang ombak gulita
Merana hati tergerus lara
Pelaut petani didera sengsara
Di punggung musim luka menganga
Di dalam lumbung, di pelabuhan kelam
Kotamu, kiai, berselempang langgam
Payang biru pinjaman rentenir
Padi biru mendesir getir
Pelaut berbanjar beralas kayu
Petani berselimut panen layu
Deru hasrat menggeliat linu
Di atas perahu dan sawah bisu
Lautmu, Kiai, berombak pasang
Pelaut berbantal arus gelombang
Pundakmu, Kiai, pikuli beban
Dari lereng bukit hingga lautan
Ke mana sakal hembuskan harap
Ke gumuk ataukah ke bilik langgar
Teratak lumbung anyaman lontar
Terbangkan hasil panen senyap
