Sejatinya perjuangan memang tidak hanya ditempuh melalui perang melawan penjajah saja, namun mencari ilmu dan menyebarkan ilmu, bergelut dalam organisasi dan berperan aktif untuk kemaslahatan juga termasuk kepada perjuangan. Tujuan Kiai Zaini mendirikan pesantren tidak hanya berorientasi menjadi kiai dan ahli agama saja, namun ingin mencetak kader santri agamis yang konsekuen, siap berjuang di manapun untuk sebuah kemaslahatan umat.
Pernyataan tersebut selaras dengan perkataan Kiai Zaini, “Saya membuka pondok ini bukan hanya karena ingin mencetak ulama (kiai) saja. Tetapi saya ingin mencetak seorang muslim yang konsekuen. Seorang muslim yang konsekuen adalah di samping selalu memikirkan agama, juga kehidupan orang banyak.”

Tidak ada arangan untuk menjadi dan menggeluti profesi apapun. Menjadi petani itu juga bagus dalam tanda kutip tidak melakukan kecurangan dalam penjualan padi dan membayar zakat ketika mencapai batas nisabnya. Faktor sebaliknya, seseorang yang bukan berlatar belakang santri bisa berakibat buruk saat menjadi petani, penjualan padi oplosan atau menimbun stok untuk dijualnya dengan lebih mahal.
Contoh lainnya, politik misalnya sudah dikatakan buruk atau kotor. Orang yang terjun ke politik pasti akan dikatakan kotor, namun saat orang yang tidak berlatarbelakang baik justru akan memperkeruh politik. Karenanya, santri yang berada di dunia politik tidak ada salahnya, dengan tujuan dan harapan dapat memperbaiki kotornya politik.
Pengalaman Kiai Zaini ikut berperan aktif dalam berjuang memerdekakan Indonesia, tentu berpengaruh kepada pemikiran dan pola pikirnya. Seluruh santrinya diberi arahan untuk menjadi muslim aktif yang ikut berjuang di masyarakat untuk kepentingan agama dan negara. Tidak harus menjadi kiai, namun menjadi apapun profesinya atau punya keahlian dan bakat di bidang apa saja, tetap diorientasikan kepada kemaslahatan umat.
