Terdapat riwayat yang mengatakan bahwa Kiai Zaini Mun’im diperintahkan oleh Kiai Syamsul Arifin untuk mencari tanah seperti di Sukorejo. Akhirnya tanah di Paiton, Probolinggo yang dipilih untuk ditempati.
Yang kedua, medan yang dipilih Kiai Zaini untuk berjuang adalah organisasi. Dalam hal ini, Kiai Zaini memilih aktif berjuang di Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Kraksaan, Probolinggo.

Di lingkungan NU, Kiai Zaini masyhur sebagai ulama karismatik. Rais Syuriah Cabang Kraksaan dan wakil Rais Syuriah Wilayah Jawa Timur pernah diamanatkan kepadanya. Selain itu, Kiai Zaini pernah menjadi juru kampanye Partai NU perwakilan fungsionaris PBNU wilayah Jawa Timur.
Yang ketiga, Kiai menjadi pendidikan sebagai medan perjuangan. Untuk itu, sekitar tahun 1948 Kiai Zaini mendirikan pesantren dengan nama Pondok Pesantren Nurul Jadid. Lembaga pendidikan yang berisi muatan mulai dari sekolah paling dasar (Raudlatul Athfal) sampai dengan perguruan tinggi (Universitas Nurul Jadid/ UNUJA). Kiai Zaini menghabiskan banyak waktunya untuk berjuang di pesantren sampai akhir hayatnya. Waktunya banyak dihabiskan untuk mengajar para santri dan menulis wawasan keislaman.
Tiga medan perjuangan Kiai Zaini tersebut merupakan wadah untuk berdakwah membagikan pemikiran, gagasan, dan wawasan keislaman serta kebangsaan. Perjuangan yang dihukumi wajib bagi Kiai Zaini ini juga diberlakukan kepada para santrinya.
