Namun, perihal interpretasi akronim tersebut masih terjadi perbedaan di antara beberapa penuturan. Ada yang menyebut, kata battangan berasal dari kata abhabhat (membabat) dan tanang kanan (tangan kanan). Sehingga kemudian maknanya sedikit berubah, yakni membabat hutan dengan tangan kanan. Namun penulis lebih condong pada akronim pertama. Rasionalisasinya adalah karena lebih pas jika dikaitkan dengan sejarahnya. Namun, dari perbedaan penuturan beberapa nara sumber saya yakini sebagai bentuk kekayaan kultur yang mesti dijaga.
Dari lelaku Ki Battangan yang merawat hutan dengan tangan kanan tersebut, maka lahirlah sebuah perkampungan yang diberi nama Bhattangan (Battangan). Battangan sendiri terdata sebagai salah satu kampung yang ada di Desa Gapura Timur hingga saat ini.

Karomah Ki Battangan
Ki Battangan terlahir sebagai manusia yang memiliki keterbatasan fisik. Dengan kaki yang hanya sampai lutut. Namun, di balik keterbatasan itu, Tuhan merahmatinya dengan kemuliaan-kemuliaan dan hal-hal yang menakjubkan, atau biasa disebut sebagai karomah. Dengan keterbatasannya itu —sebagaimana dijelaskan sebelumnya— Ki Battangan berhasil menyulap hutan menjadi kampung Battangan; merawat hutan, membersihkan semak-semak dengan tangan kanan.
Tidak hanya itu, semasa hidupnya, Ki Battangan sering melakukan hal-hal menakjubkan lainnya. Hal-hal yang barangkali tidak bisa dijanglau oleh nalar pikir manusia.
Beberapa di antara peninggalannya masih ada sampai sekarang. Salah satunya adalah sebuah sumur. Sumur pada umumnya hanya digunakan untuk mandi, mencuci, dan lain-lain. Namun, sebagaimana dikisahkan, bahwa sumur milik Ki Battangan penuh dengan cerita ajaib. Dituturkan, sumur itu menjadi salah satu saksi dari kisah-kisah menakjubkan Ki Battangan.
