Ki Battangan, Tokoh Legenda Masyarakat Madura

Sumur tersebut —dulu— biasa digunakan Ki Battangan sebagai jalan pintas menuju tempat-tempat jauh, misal ke Pulau Poteran bahkan ke Pulau Jawa. Dalam perjalanannya, Ki Battangan hanya menggunakan sapu tangan sebagai kendaraan untuk menyelam ke dalam sumur dan kemudian bisa menembus ke laut. Setelah itu, Ki Battangan menaiki ikan dalam perjalanan di laut, dan menaiki kelelawar untuk perjalanan di udara. Sehingga, dengan alasan itu, kemudian Ki Battangan melarang para keturunannya untuk mengonsumsi ikan laut.

Karena kekeramatan sumur tersebut, tak banyak orang berani masuk ke dalamnya hingga saat ini. Hanya orang-orang tertentu yang bisa dan berani masuk. Menurut sebagian pernyataan, orang yang pernah masuk ke dalam mengatakan bahwa di tepi bawah sumur tersebut terdapat sebuah tempat seukuran orang tidur. Berdasarkan beberapa kisah, tempat tersebut merupakan tempat pertapaannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ki Battangan juga memiliki karomah sebagaimana lumrah orang dulu memilikinya, yakni ilmu mandraguna atau yang biasa dikenal sebagai ilmu kanuragan. Karomah ini biasa ditemukan pada orang atau santri terdahulu. Sebab, salah satu kebiasaan para santri —pada masa itu— adalah belajar ilmu kanuragan sehabis ngaji di surau. Maka tak ayal banyak orang zaman dulu yang sakti mandraguna. Menariknya, dalam latihan ilmu kanuragan tersebut para santri juga diajari ilmu batin; baik terkait hubungan mereka dengan Tuhan (relasi vertikal) atau dengan manusia (relasi horizontal).

Menurut sebuah kisah, Ki Battangan pernah menantang Ki Gurang-Garing untuk beradu kesaktian. Ki Gurang-Garing juga merupakan sosok yang keramat, bahkan sampai sekarang makamnya yang terletak di Kecamatan Batang-Batang selalu dikunjungi para peziarah; baik lokal atau luar daerah. Ki Battangan menantang Ki Gurang-Garing untuk masuk ke sebuah botol kecil. Uniknya, dengan ilmu yang dimiliki, Ki Battangan berhasil masuk, sedangkan Ki Gurang-Garing gagal.

Singkat cerita, setelah itu, Ki Battangan keluar dari botol dan berkata dengan nada canda: “Dhika banyak galluk ngakan. Mon bula jhaghung sittong cokop kaangghuy sataon, mon dhika jegung tello bighi coma cokop saare, ghaniko se madhaddhi moros” (Sampean terlalu banyak makan. Kalau saya, satu buah jagung cukup untuk satu tahun, sementara sampean tiga biji jagung hanya cukup untuk satu hari, itu yang menyebabkan diare).

Dari kisah tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa orang-orang terdahulu memang ahli tapa . Bayangkan, sebuah tiga biji jagung selama satu hari dianggap sebagai sebuah porsi makan yang berlebihan. Atau barangkali, ada maksud lain dari kata ‘sebiji jagung’ yang penulis tidak memahaminya. Wallahu a’lam…

Tinggalkan Balasan