Kiai Abdulhalim dan Pesantren Santi Asromo

Dengan dukungan terutama dari Mas Arja Brata, seorang keluarga kaya dari Ciomas yang mewakafkan 2 hektare tanahnya di Pasir Ayu (kemudian dipergunakan untuk lokasi pesantrennya) dan Wali Muhamad, seorang berkebangsaan Pakistan, Abdulhalim pun pada 1932 merealisasi cita-citanya, mendirikan sebuah pesantren. Berkat ramuan kontemplatif dari neo-sufisme, pendidikan terbuka kemandirian sipil, swadeshi Gandhisme, dan pengalaman malang melintang sebagai aktivis gerakan, Abdulhalim meresmikan berdirinya pesantren yang ia beri nama: Santi Asromo, sebuah nama yang tak lazim, unik bin aneh bagi pesantren umumnya kala itu (yang biasanya dikaitkan dengan nama tempat, pesantren Tebuireng, misalnya), bahkan sampai sekarang yang semuanya pakai nama Arab. Santi Asromo yang berarti asrama yang damai berdiri tegak di kaki gunung Ceremai, 600 meter di atas permukaan laut (16 km dari kota Majalengka).

Tak lama kemudian, Pesantren Santi Asromo pun berkembang pesat, santri-santri mengalir dan bilik-bilik tempat para santri bermukim lalu dibangun di area tanah wakaf yang dari waktu ke waktu terus bertambah. Dengan dibantu beberapa ustadz (guru) dari Kuningan, Cirebon, dan Majalengka sendiri, Kiai Abdulhalim mengajarkan berbagai ilmu agama (teologi, fikih, dan adab), terutama dari kitab-kitab kuning, dan keterampilan dan praktiknya di bidang pertukangan, pertanian, dan perdagangan. Pendidikan di alam terbuka atau yang dikenal tadabbur melalui alam semesta merupakan prinsip yang dianut dan dipraktikkan di pesantren ini agar sekaligus terbangun kemandirian (independensi) sipil sebagi bagian dari akhlaqulkarimah (tata krama hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia dan alam semesta) dapat tercipta.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tampaknya karena naluri gerakan yang terpatri dalam diri Kiai Abdulhalim, maka independensi tersebut lebih diarahkan untuk membangun kesadaran kritis menyikapi dominasi, penghisapan/eksploitasi, penindasan, dan perampasan hak oleh kolonial Belanda dan Jepang. Di sela-sela bahkan inheren di dalam mengajar agama, keterampilan-keterampilan pertanian-perdagangan, Kiai Abdulhalim selalu memasukkan semangat dan ide-ide perlawanan terhadap apa pun yang mengancam eksistensi dan hak-hak sebagai manusia dan warga bangsa.

Buahnya adalah ketika pada 1946-1948, semua santri Santi Asromo – dan para petani-pedagang di sekitarnya – menjadi pejuang-pejuang militan memasuki medan laga perang kemerdekaan, agresi kedua Belanda. Di bawah komando Kiai Abdulhalim sendiri, mereka memasuki pedalaman sampai hutan untuk perang gerilya melawan Belanda, dan tidak sedikit dari mereka yang gugur. Yang lebih mengerikan adalah sebagian dari bilik-bilik asrama santri, termasuk rumah Kiai Abdulhalim, akhir 1947, ludes dibakar oleh Belanda, menjadi luluk-lantak, rata dengan tanah, termasuk perpustakaan pribadi kiai yang berisi ribuan kitab dan buku-buku penting.

Usai penyerahan kembali Republik Indonesia sebagai negara kesatuan pada 1949, Kiai Abdulhalim beserta santri-santrinya yang tersisa menata kembali Pesantren Santi Asromo. Atas bantuan keswadayaan warga masyarakat sekitar, bilik-bilik pondok berikut rumah kiai berdiri kembali dan mulai akhir 1950 pengajian-pengajian dapat diselenggarakan lagi. Di tahun-tahun 1950-1960, di mana kontestasi antarpartai (PNI, PKI, NU, dan Masyumi) berlangsung seru dan perdebatan nyaris tak berujung soal konstitusi negara sehingga lahirlah NASAKOM dan Dekrit Presiden 1959, Kiai Abdulhalim tidak terlibat di dalamnya. Kiai ini hanya tertarik untuk lebih konsentrasi mengembangkan Pesantren Santi Asromo, seperti cata-cita awalnya, sebagai lembaga pendidikan keswadayaan sipil di alam terbuka dengan fondasi neo-sufisme sebagai akar teologis dan ideologisnya.

Tak lama sesudah dibangun kembali, Pesantren Santri Asromo pun disesaki oleh santri-santri yang mondok dan belajar agama, pertanian, dan perdagangan dari berbagai daerah di Jawa Barat, tercatat di atas 900 santri, suatu jumlah yang kala itu sangat banyak, itu belum termasuk santri kalong dari kaum muda sekitar yang belajar ngaji tapi tidak tinggal di pondok. Sehari-hari Kiai Abdulhalim sangat sibuk, nonstop mendidik para santri dan warga sekitar: mengajar ngaji, pertanian, dan perdagangan dengan memanfaatkan berbagai media yang ada. Aktivitas Kiai Abdulhalim itu dilakoninya dengan ikhlas hingga di akhir hayat; ia wafat pada 7 Mei 1962.

Sesudah itu, Pesantren Santi Asromo pun dari tahun ke tahun makin menurun; jumlah santri terus berkurang dan para pendukung terutama dari kalangan petani dan pedagang kehilangan panutan. Tidak ada generasi baik yang segaris keturunan maupun santri-santri senior yang meneruskan; putra-putra Kiai Abdulhalim sendiri memilih beraktivitas di bidang sosial ekonomi dan politik di luar Majalengka. Cita-cita dan ide membangun kemandirian sipil yang berbalut ideologi resisten dan teologi neo-sufisme pun ikut tenggelam ditelan waktu. Ketika saya (secara kebetulan) berkunjung ke Pasir Ayu pada 1988, saya tidak menyaksikan satupun santri ada di sana, yang ada hanya bilik-bilik kosong yang sudah lapuk, beberapa gedung bangunan permanen di sebelahnya dengan papan nama: Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah dengan jumlah siswa yang tak banyak. Rupanya, orientasinya telah berubah; dari membangun independensi teologis ke secarik kertas berupa ijazah. Kini, adakah yang bersedia meneruskan cita ideal Kiai Abdulhalim, tentu, di tempat yang berbeda?

Tinggalkan Balasan