Kiai Arief dan Jalan Sunyi di Tanah Ulu Mahakam

Keteladanan itu tidak berhenti pada aspek personal. Dalam pengabdiannya, Kiai Arief juga membimbing mereka yang baru memeluk Islam dan mengenalkan syariat dari hal-hal paling dasar, mendampingi prosesi pemakaman secara layak, hingga memastikan mereka memahami konsekuensi menjadi seorang muslim yang mukallaf. Dari interaksi itulah masyarakat kemudian mengenal Assalam bukan sekadar sebagai pesantren, tetapi sebagai rumah dakwah.

Tiga dekade telah berlalu sejak langkah pertamanya di tanah Ulu Mahakam. Pesantrennya kini berkembang; jumlah santri bertambah, bangunan diperluas, dan kegiatan pendidikan semakin beragam.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pesantren Assalam kini memiliki lembaga pendidikan formal mulai Taman Kanak-kanak (TK) hingga Aliyah (SMA). Pesantren juga tidak mengutip bayaran dari para santri. Biaya operasional pondok berasal dari sumbangan donatur dan hasil unit-unit usaha pesantren, seperti usaha perkebunan, pertokoan dan Baitul Mal wa at-Tamwil (BMT). Seluruh siswa atau santri yang belajar di Assalam saat ini mencapai 600 orang. Sekitar 100 santri tinggal di pondok, sisanya santri kalong.

Meskipun situasinya sudah berubah, namun tidak dengan karakter Kiai Arief. Ia tetap sosok yang sederhana dalam gaya hidup, kuat dalam pendirian, dan teduh dalam memberi nasihat.

Kepada kami, pesannya selalu sama: istikamah. Setegas-tegasnya jalan dakwah, keberkahan hanya akan hadir bila seorang hamba terus teguh menolong agama Allah. Dan perjalanan hidup Kiai Arief adalah kesaksian nyata dari janji itu.

Tinggalkan Balasan