Hampir setahun dakwah berlangsung dengan pola seperti itu, sampai suatu ketika situasi berubah. Seorang pejabat militer setempat mengeluarkan instruksi agar Kiai Arief meninggalkan bangunan tua tersebut. Bagi sebagian orang, perintah semacam itu dapat memicu konflik, tetapi Kiai Arief memilih menerima, melangkah pergi, dan mencari tempat baru tanpa merenggangkan persaudaraan. Sikapnya yang tenang justru menarik perhatian masyarakat. Di antara mereka, muncul keluarga-keluarga yang menawarkan sebidang tanah wakaf sebagai tempat baru untuk melanjutkan dakwah.
Tanah itu bukan lahan subur. Ia adalah tanah lama yang pernah diperuntukkan bagi transmigran puluhan tahun sebelumnya, kemudian ditinggalkan dan berubah menjadi rawa yang lebat. Tetapi di situlah Kiai Arief melihat harapan.

Bersama warga, ia membuka hutan secara manual: menebas ilalang, membersihkan tanah, menyusun papan bekas yang mereka temukan, dan merangkai bangunan pertama yang amat sederhana. Ukurannya tidak besar hanya cukup untuk beberapa santri dan dua guru yang saat itu mendampinginya. Atapnya pun hanya dari daun nipah yang mudah robek bila angin datang kencang.
Begitulah Pondok Pesantren Assalam berdiri. Bukan dari proyek besar apalagi modal yang banyak, melainkan dari keikhlasan dan kekuatan gotong royong. Sisa-sisa kayu bekas pedagang, keringat para warga, dan keteguhan seorang dai menjadi fondasi yang kemudian berkembang hingga seperti yang kita lihat hari ini.
Di balik sosoknya yang teguh, Kiai Arief menyimpan pengalaman yang hanya diketahui oleh orang-orang dekatnya. Ia pernah terseret arus Mahakam hingga hampir tenggelam, sebuah kejadian yang membuatnya selalu berhati-hati setiap kali menaiki kapal. Ia pernah tidak memiliki pilihan tempat beristirahat selain bangunan bocor yang menjadi kediamannya saat awal bertugas. Dan ia sering menyisihkan makanan untuk santrinya, memilih makan seadanya, bahkan berpuasa selang sehari, kebiasaan yang masih terus ia jaga hingga kini.
Dalam memberi hukuman atas kesalahan yang dibuat oleh santri-santrinya pun beliau tidak pernah melukai fisik. Baginya hukuman haruslah mendidik bukan malah memberikan warisan dendam.
