Oleh karena itu, untuk merealisasikan upaya tersebut, Kiai Asep memberikan dasar pemikiran atas pendirian pesantren dengan segala tantangannya di era 4.0. Yaitu, ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan kader bangsa yang berkualitas, siap mendarmabaktikan untuk agama, bangsa dan negara, mempersiapkan siswa siswi mempunyai kualitas keterampilan yang baik, berakhlakul karimah dengan menjadi masyarakat madani yang mengupayakan kesejahteraan-kebahagiaan serta memproses semua lulusan untuk bisa melanjutkan studinya ke perguruan tinggi yang berkualitas pada fakultas pilihan seperti agama, kedokteran, farmasi, teknik, ekonomi, sospol, sains, seni, pertanian baik berada dalam negeri maupun luar negeri.
Dalam pada itu, ia menginginkan output yang dihasilkan Pondok Amanatul Ummah harus seperti digariskan hadits dalam merumuskan tujuan pendidikan. Yaitu, menjadi ulama yang bisa menerangi Indonesia dan dunia, menjadi pemimpin dunia dan bangsanya yang akan mengupayakan terwujudnya kesejahteraan dan tegaknya keadilan, menjadi konglomerat besar yang berkontribusi maksimal bagi terwujudnya kesejahteraan bangsa Indonesia dan menjadi profesionalis yang berkualitas dan bertanggung jawab.

Dari paparan singkat di atas, saya mengajak pembaca yang budiman untuk tetap bersatu-padu mengembangkan dunia pendidikan seperti yang diperjuangkan Pengasuh Pesantren Amanatul Ummah pada bidang pendidikan. Tak lupa, saya mengingatkan pembaca sekalian untuk me-review kembali rumusan-tujuan pendidikan yang tercantum dalam UU Nomor 4 Tahun 1950 pasal 3, yaitu tujuan dari pendidikan dan pengajaran ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.
Akhir kata, proses pendidikan seperti diamanatkan UNESCO tentang pilar pendidikan bahwa dalam proses pendidikan harus mengandung Value of Education yang terdiri dari Learning to Know, Learning to do, Learning to live together and learning to be. Semoga kita tetap berpendidikan demi sebuah perubahan yang lebih baik. Wallahu a’lam.
