Berkat kegigihannya, Pesantren Al Hikmah mengalami kemajuan yang pesat. Santrinya datang dari berbagai daerah, dan saat itu jumlah santri pernah mencapai 1.600 orang. Di Kediri, Kiai Badrus tergolong sebagai yang pertama membuka pesantren khusus untuk kaum perempuan. Dan, secara bertahap, pendidikan di Pondok Pesantren Al Hikmah terus berkembang, mulai dari perintisan Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah (MI), Kulliyatul Mu’allimin, Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), sampai dilanjutkan dengan pendirian Perguruan Tinggi Al-Hikmah (PTA), dan Fakultas Tarbiyah dan Madrasah Diniyah Salafiyah (MDS).
Selain tekun dan sabar mendidik para santri, Kiai Badrus juga gigih menanamkan jiwa nasionalisme kepada para santrinya. Ketika belanda ingin kembali menguasai Indonesia, Kiai Badrus bersama para santrinya ikut berjuang melawan penjajahan itu. Pun, ketika terjadi geger politik 1965, Kiai Badrus bersama santri juga ikut melawan PKI yang saat itu ingin menguasai daerah Kediri.

Walau demikian, sebagai seorang kiai, Kiai Badrus tak pernah melupakan kewajiban untuk mendidik para santrinya. Berbagai macam kitab klasik diajarkan kepada para santrinya, seperti kitab Riyadlus Shalihin dan Bulughul Maram. Hingga masa-masa akhir, ketika pesantren yang dirintisnya berkembang pesat, Kiai Badrus tetap menjadi tokoh bersahaja namun juga tegas terutama dalam menjalankan salat berjamaah. Kiai Badrus tak segan untuk memarahi santrinya yang mbeling dalam hal salat berjamaah.
Namun, segala perjuangannya terhenti karena Kiai Badrus dipanggil oleh Allah dalam sebuah kecelakaan di Ngawi pada 1983. Saat naas itu, Kiai Badrus bersama istrinya, Nyai Hj Azzah Badriyah, beserta kedua putra beliau yang masih kecil, tak terolong. Kini, segala perjuangan Kiai Badrus diteruskan oleh putra-putrinya, dan menjadikan Pesantren Al Hikmah semakin berkembang dengan banyaknya lembaga pendidikan yang telah berhasil didirikan oleh para penerus KH Badrus Sholeh Arif.
