“مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلًّا بِهِ فَهُوَ وَاجِب ,” Kiai Amin menyitir sebuah kaidah. “Suatu wasilah tercapainya kesempurnaan sebuah perkara wajib, maka hukumnya jadi wajib.”
“Wah, saya tidak berani mendebat lagi kalau begitu, Kiai. Bisa-bisa nanti saya tidak jadi diambil menantu,” Kiai Syukri kemudian tertawa lebar. Ternyata tawa itu tidak menular kepada tamunya. Kiai Amin tampak tak suka mendengar tawa itu.

“Saya tak mengira pesantren yang merupakan wadah perjuangan para masyayikh selama berabad-abad ada yang menganggapnya tidak penting.” Kiai Amin masih belum mau menerima pendapat Kiai Syukri.
“Monggo diminum lagi tehnya, Kiai, biar lebih segar.”
Tamu itu meminum tehnya hingga tandas.
“Maaf Kiai, saya tadi hanya mengatakan bahwa dunia itu perkara dunia. Padahal kita tahu,
كم من عمل يتصور بصورة أعمال الدنيا ويصير بحسن النية من أعمال الأخرة، وكم من عمل يتصور بصورة أعمال الأخرة ثم يصير من أعمال الدنيا بسوء النية
Betapa banyak aktivitas menyangkut urusan dunia namun lantaran niat yang baik, berubah menjadi aktivitas yang bernilai akhirat. Sebaliknya, betapa banyak aktivitas keagamaan kemudian menjadi aktivitas duniawi belaka lantaran niat yang buruk.”
“Ternyata jenengan tidak seperti yang kukira,” sahut Kiai Amin.
“Pripun, Kiai?”
“Lebih alim dari yang kukira, dan memiliki pendapat yang tidak biasa, namun penting juga hal seperti ini untuk memperluas hasanah pemahaman kita. Tapi, jenengan juga harus tahu satu hal tentang putri saya, Kiai Muda.”
Kiai Syukri berpikir keras. “Apakah itu Kiai. Kiai Amin ini ternyata pandai membuat orang penasaran.”
“Putri saya jauh lebih cantik dari yang jenengan kira.” Kiai Amin lantas tersenyum.
Kiai Syukri buru-buru meminum tehnya.
Sambil memperhatikan kiai muda itu, Kiai Amin berucap lagi, “Dan, satu lagi.”
Kiai Syukri memperhatikan tamunya itu dengan saksama. Semakin penasaran. Keistimewaan apa lagi yang dimiliki gadis bernama Fina itu, pikirnya.
“Fina lebih manis dari teh yang jenengan minum itu.”
