Pengaruh dari pengamalan tasawuf beliau yang mendalam ini terpancar dalam kehidupan sehari-hari. Kiai Hariri dikenal merupakan sosok yang sangat ramah, selalu tersenyum ketika bertemu, serta sangat penyabar. Beliau juga dikenal sebagai sosok yang sangat penyayang, tidak hanya kepada manusia, melainkan kepada seluruh makhluk ciptaan Allah Swt, termasuk hewan dan tumbuhan. Bagi beliau semuanya adalah makhluk ciptaan Allah yang harus disayangi; mereka semua bertasbih memuji keagungan Allah.
Salah satu bukti akan kecintaan beliau terhadap lingkungan bisa kita lihat pada cerita yang ditulis dalam buku Suluk KH Hariri Abdul Adhim. Dalam buku itu disebutkan bahwa saat itu di asrama Ma’had Aly terdapat salah satu pohon mangga yang sudah sangat lebat. Dahannya menjalar ke mana-mana sehingga menggangu orang yang lewat. Celakanya lagi, pohon ini juga dijadikan sarang oleh kawanan tawon yang seringkali menyengat orang-orang yang lewat di sekitarnya.

Karena dirasa lebih banyak mudaratnya, maka sebagian santri Ma’had Aly saat itu berinisiatif untuk memotong dahan tersebut. Awalnya mereka ragu karena tahu bahwa Kiai Hariri sangat tidak senang jika ada santri yang sembarangan memotong dahan pohon tanpa izinnya. Namun, untuk mendapatkan izin dari beliau pun merupakan hal yang juga teramat susah. Sebab, seperti yang disebutkan di depan, beliau merupakan orang yang sangat sayang terhadap setiap makhluk hidup. Menurut beliau, dahan-dahan tersebut mempunyai hak untuk tumbuh juga; mereka pun bertasbih sama seperti kita, sehingga lebih baik jika dahan tersebut dibiarkan saja seperti sedia kala.
Namun, karena sudah tidak tahan lagi dengan kondisi dahan yang terus menjalar serta tawon yang terus saja membahayakan orang sekitarnya, maka sebagian santri waktu itu memilih untuk memotong dahan pohon tersebut. Biarlah nanti mereka yang menanggung risikonya kalaupun harus dimarahi Kiai.
Pemotongan dahan pun dilaksanakan. Mereka sengaja memilih waktu di mana Kiai Hariri mios (pergi ke luar pesantren) untuk mengisi acara di suatu tempat. Sorenya, ketika pulang, Kiai Hariri melihat ada keanehan dari pohon yang beliau jumpai. Beliau tak lagi melihat rindangnya pohon tersebut, serta tawon yang biasanya bersarang di sana.
Benar saja, malam harinya beliau langsung menyuruh seluruh santri Ma’had Aly Situbondo untuk berkumpul di aula. Mereka kaget dan bertanya-tanya ada apa gerangan pengumuman yang tiba-tiba ini. Semua santri bergegas menuju ke dalam aula. Setelah semua berkumpul, datanglah Kiai Hariri dengan raut wajah yang tak seperti biasanya; raut wajah kesal dan menahan marah.
Malam itu suasana di aula Ma’had Aly nampak berbeda. Kiai Hariri yang biasanya terkenal ramah, selalu menebar senyum kepada siapa saja yang ia sapa, kini berubah datar dan dingin. Keheningan pecah ketika beliau melontarkan sebuah pertanyaan singkat, “Siapa yang memotong dahan pohon tadi pagi?” Pertanyaan yang cukup singkat, tegas, sekaligus menjawab alasan kenapa mereka semua dikumpulkan malam ini.
