Siklus kehidupan pasti akan sedinamis saat kita bangun tidur, yang kemarin ternyata masih mendengar kicau burung tetangga, hari ini mendengar burung milik sendiri, laku hari-hari berikut bergabung dangan sesama pecinta burung.
Sesederhana itu kita melihat dinamisnya kehidupan. Kita bisa beranggapan bahwa burung itu dijual karena pemiliknya sedang kepepet kebutuhan, atau mungkin ia sedang mengincar burung lain untuk dipelihara, dan dari sini kita sama-sama beranggapan dan berbagai warta yang akan kita ungkapkan.

Satu hal yang perlu kita garis bawahi adalah peran manusia dalam menyikapi perubahan sebagai keniscayaan. Jika Anda dulu pernah belajar iqra’, ngaji ngeja, lalaran di mushala, langgar, atau surau, pasti merasakan bagaimana pola pengajaran dan peran sosial para guru-guru kita itu.
Salah satu contoh, saat salah satu santri khatam Quran atau iqra untuk pertama kalinya pasti akan ada selamatan atau syukuran yang digelar di langgar.
