Kiai Langgar dan Perubahan Sosial

Interpretasinya beragam, bahkan yang menjadi unik adalah adanya jarum, sejumlah uang, benang, dan daun di bawah nampan atau tempat nasi tumpeng dihidangkan. Hal ini menjadi simbol harapan bahwa yang disyukuri semoga memiliki kecerdasan setajam jarum, seulet benang, memiliki fondasi dasar yang kokoh tapi fleksibel seperti daun, dan tidak kekurangan rezeki.

Harapan-harapan yang disimbolkan tersebut tidak lain adalah bagian dari warisan leluhur, yang juga dikonservasi dan dikembangkan oleh para kiai langgar. Kiai langgar tidak seperti halnya kiai dengan tradisi pesantren yang agung dan elite. Kiai langgar memiliki dialektika sendiri, yang lebih akrab dengan masyarakat, bahkan ketika ia memiliki kelebihan seperti bisa mengobati sawan, atau sakit gigi, dan lain sebagainya dengan istilah suwuk, maka akan berdatangan masyarakat sekitar untuk bertamu dan bergaul dengannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kiai langgar memiliki ritus sosial yang lebih lekat dengan jejaring masyarakat dari berbagai tingkatan. Tidak hanya itu, ketika pagi sampai siang, kiai langgar juga bekerja layaknya masyarakat biasa, tanpa risih dengan gelar sosial sebagai kiai langgar.

Namun jauh daripada itu, yang perlu diluruskan adalah stigma bahwa kiai hanya mereka yang berada di pesantren atau yang keturunan kiai langsung. Ini yang perlu dikaji dan didalami betul.

Tinggalkan Balasan