Kiai Syibli dan Sanksi yang Nyeleneh

Ada beberapa sanksi yang bisa dibilang cukup berat, tentu bagi pelanggaran-pelanggaran dalam kategori berat pula. Ada pula sanksi yang terbilang sangat mudah dan ringan. Beberapa sanksi juga kadang menjengkelkan, bahkan terkesan aneh tapi unik, sebagaimana sanksi yang biasa dibuat oleh Kiai Syibli (selanjutnya saya panggil Ra Boby), mantan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Ismailiyah Pamekasan.

Ra Boby adalah putra kedua dari pengasuh pertama, Allahumma Ighfir Lahu Kiai Hisyam Sidqi. Beliau menjadi pengasuh pesantren sementara selama kakaknya, Kiai Nur Huda, mengenyam pendidikan di Yaman. Selama masa beliau menjadi pengasuh, sosoknya dianggap karismatik di tengah usianya yang sangat muda, bahkan bisa dikatakan seumuran dengan saya. Hal itu karena Ra Boby memiliki tampang yang—bagi kebanyakan santri—agak serius dan sinis. Padahal, bagi beberapa yang sudah mengenal beliau, Ra Boby nyatanya adalah kiai muda yang loyal dan ramah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Meski dirinya dianggap sangat karismatik, namun Ra Boby memiliki sanksi yang terkesan konyol dan unik terhadap santri yang melanggar peraturan pondok pesantren. Sebagai santri yang pernah menjadi asuhan beliau dan pernah merasakan kebijakannya, tidak satu kali pun saya melihat Ra Boby menggunakan sanksi fisik bagi para pelanggar, sebagaimana juga dipraktikkan sang kakak saat ini, Kiai Nur Huda. Meskipun sanksi fisik di pesantren untuk memberikan efek jera adalah hal yang biasa dan bahkan memang semestinya diakukan, namun nyatanya, dalam memberikan sanksi, Ra Boby memiliki cara uniknya sendiri.

Pertama, sanksi botak sebagian. Ini pengalaman terkonyol saya selama nyantri. Awal-awal saya mondok di pondok pesantren tersebut, saya dan beberapa teman-teman dengan khilaf pulang ke rumah (untuk mengambil uang dan beberapa kiriman orang tua) tanpa pamitan langsung ke beliau, melainkan melalui asisten pribadinya. Kami pikir, karena sifatnya sementara, maka tidak perlu pamitan langsung, terlebih saat itu beliau masih ada di kampusnya.

Tinggalkan Balasan