BUNYI OMPRENG
Teng… teng… teng…
Clang… clang… clang…

Sungguh riuh ompreng yang saling beradu,
menggema hingga menenggelamkan sunyi.
“semua ini demi kemerdekaan!!!!” gelegar orang berdasi
“kemerdekaan macam apa???” tanya orang-orang bertopi jerami
Seompreng hidangan datang dengan harga yang begitu mahal
Hingga seluruh dunia menyaksikan kekenyangan ini.
Bukan tentang perut anak bangsa, melainkan kenyangnya perut penjajahan.
KEDAULATAN
Kedaulatan
tidak mati oleh peluru.
Ia mati
ketika sebuah bangsa
lebih bangga
menadah tangan
daripada
menanam benihnya sendiri.
DOA BANGSA
Kepada Sang Hyang Wenang,
Sang Hyang Tunggal,
Sang Hyang Jagadnata,
jangan biarkan kami
kehilangan negeri,
bukan karena perang,
melainkan karena kami tak mampu melindungi
Jangan biarkan sepiring kenyang hari ini
menjadi harga bagi matinya negeri kami.
UNGGAH UNGGUH NEGERI
Hampir punah sudah unggah-ungguh negeri ini
Telah gugur sudah harga dirinya hari ini
Dikafani oleh tangannya sendiri
Sebuah bangsa tak lagi tegak di atas kakinya sendiri
Mirisnya negeri ini melahirkan penjajah dari rahimnya sendiri
TEMBANG KESEDIHAN NEGERI
Dengarkanlah kidung duka dari tanah yang dahulu luhur.
Hampir sirna unggah-ungguh negeri ini.
Wibawa yang diwariskan leluhur kini luruh di hadapan dunia.
Bangsa yang dahulu berdiri, kini belajar menunduk di tanahnya sendiri.
Bukan pedang asing yang merobohkan kehormatan kami,
melainkan tangan-tangan sendiri yang menjual mahkota negeri.
Sumber ilustrasi: TikTok.
