Kirab Legin Warnai Haul Karomah ke-109 Syekh H Moch Noer

Puluhan sajian berbentuk tumpeng menghiasi halaman Pondok Pesantren Nahdlatul Arifin, Kemuningsari Lor, Kecamatan Panti, Jember, Minggu (6/9/2026). Bukan sekadar hidangan, sajian tersebut merupakan Legin, tradisi masyarakat setempat yang menjadi bagian dari rangkaian Haul Karomah ke-109 Syekh H Moch. Noer.

Sedikitnya 36 Legin ikut dalam kirab budaya tersebut. Bentuknya beragam. Ada yang disusun menyerupai tumpeng, masjid, hingga berbagai bentuk lainnya. Buah-buahan menjadi bagian utama yang ditata sedemikian rupa sebelum kemudian dibawa dalam rangkaian acara.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di wilayah Kabupaten Jember, tradisi semacam ini lebih dikenal dengan sebutan ancak. Namun, masyarakat Kemuningsari Lor memiliki sebutan sendiri, yakni Legin.

Tradisi tersebut menjadi salah satu cara masyarakat mengekspresikan rasa syukur sekaligus memperingati haul Syekh H Moch. Noer. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari suasana menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi.

Rangkaian acara diawali dengan praacara berupa lantunan selawat yang diiringi hadrah. Di tengah lantunan tersebut, masyarakat dan peserta juga mempersiapkan serta menata Legin yang akan mengikuti kirab.

Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan pembacaan narasi budaya tentang tradisi tilik sumber dan Legin. Narasi tersebut menjelaskan hubungan tradisi masyarakat di lereng Gunung Argopuro dengan sumber mata air yang selama ini dianggap memiliki nilai penting bagi kehidupan warga.

Salah satu yang disebut dalam narasi tersebut adalah Balong Keramat Mbah Yai Noer. Tempat itu menjadi salah satu sumber mata air yang memiliki nilai budaya bagi masyarakat di wilayah Panti.

“Budaya di lereng Gunung Argopuro adalah budaya tilik sumber, terutama balong keramat. Salah satunya Balong Keramat Mbah Yai Noer yang berada di antara sumber-sumber yang dikeramatkan di tujuh desa di Kecamatan Panti,” ujar petugas pembacaan narasi budaya.

Tradisi tilik sumber juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pada pagi hari. Masyarakat bersama sejumlah tokoh dan pemerintah desa mengambil tujuh sumber mata air dari tujuh desa di Kecamatan Panti.

Tujuh sumber tersebut kemudian ditempatkan dalam tujuh kendi. Air dari masing-masing sumber nantinya akan disatukan dalam sebuah ritual pada satu titik yang telah disepakati bersama oleh tujuh desa.

Dalam narasi budaya yang dibacakan, kegiatan tersebut juga dikaitkan dengan karya Mbah Yai Noer yang dikenal sebagai Bait 12. Konsep pitung atau tujuh, seperti tujuh langit dan tujuh bumi, menjadi salah satu gambaran simbolik yang digunakan untuk membaca hubungan antara tradisi tilik sumber dan Legin.

“Ke depan, harapannya ini menjadi makna keberkahan kita atas kegiatan Haul Karomah ke-109 Mbah Yai Noer,” lanjut petugas tersebut.

Bagi masyarakat Kemuningsari Lor, Legin bukan tradisi yang baru berlangsung sekali. Kepala Desa Kemuningsari Lor, Abdul Waqi, S.Pd., menyebut kegiatan tersebut telah dilaksanakan masyarakat selama kurang lebih 11 tahun.

“Kurang lebih sekitar 11 tahun sudah melaksanakan acara Legin ini,” kata Abdul Waqi dalam sambutannya.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam pelaksanaan kegiatan masih terdapat kekurangan. Menurutnya, tahun ini terdapat sekitar 36 Legin yang ikut dalam rangkaian acara.

Setelah pembacaan narasi dan sambutan, suasana kembali dipenuhi lantunan sholawat Nabi. Peserta kemudian mengikuti Mahalul Qiyam sebelum doa bersama yang dipimpin KH Mahfud Ahsan selaku pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatul Arifin.

Usai doa, Legin yang sejak awal ditata dan dipersiapkan dengan penuh perhatian mulai diambil satu per satu. Masyarakat membawanya pulang secara perlahan.

Di sana, Legin tidak hanya menjadi susunan buah yang dibentuk indah untuk dilihat. Ia menjadi cara masyarakat menyimpan ingatan tentang leluhur, merawat tradisi, sekaligus mengungkapkan rasa syukur.

Haul kemudian tidak berhenti pada ingatan terhadap seorang tokoh agama. Di dalamnya terdapat ruang bagi masyarakat untuk kembali mengingat hubungan mereka dengan alam, sumber air, desa, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kirab Legin menjadi salah satu penanda bahwa kebudayaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang megah. Kadang ia tumbuh dari halaman pesantren, dari buah-buahan yang disusun bersama, dari air yang diambil dari sumber, dan dari masyarakat yang masih bersedia menjaga apa yang diwariskan kepadanya.

Tinggalkan Balasan