Kiai menceritakan: “Sewaktu saya mondok di Pesantren Langitan, ada kabar dari bapak supaya pulang sebentar. Saya pun akhirnya pulang. Sesampai di rumah, bapak bilang; nek awakmu siap golek biaya dewe gawe mondok, yo balik o nang pondok, bapak wes gak sanggup biayai, tapi nek gak sanggup yowes muleh ae, nang omah wae ngajar ngaji nok langgar (kalau kamu siap mencari biaya sendiri menjadi santri, kamu boleh kembali ke pondok, ayah sudah tidak mampu lagi membiayai. Tapi kalau tidak siap dan tidak mampu cari biaya sendiri, pulang saja ke rumah mengajar anak-anak di musala).
Aku hanya jawab, “Insya Allah kulo nyuprih biaya piyambak, kulo nyuwun restu saking panjenengan (Aku hanya menjawab: insya Allah saya siap mencari biaya sendiri. Saya hanya minta doa restu).

Bapak terus ngomong: yowes nek ngunu budalo, iki ono jam tangan gawe sangu, bapak mung duwe iki (Ayah kemudian bilang; kalau begitu silakan lanjut mondok, ini ada jam tangan. Bapak cuma punya ini). Kiai melanjutkan: itu terakhir kali saya mendapat uang saku dari bapak.”
Hanya ada getar di tubuh waktu mendengarkan kisah Kiai tersebut. Kiai memang terkenal kedisiplinannya. Selain mengajar santri dengan kitab-kitab kecil sampai besar, Kiai juga mengajarkan dengan perilaku. Artinya, kiai memang benar-benar melakukan itu, dan sudah menjadi semacam kebiasaan.
