Buku Ulama Nahwu Garis Lucu

Kisah-kisah Ulama Nahu Garis Lucu

Pada suatu hari, Sa’id bin Salam bin Qutaibah—seorang ahli hadis dan pakar bahasa—mendatangi istana Khalifah Harun ar-Rasyid. Ia begitu terpukau pada wibawa dan kharisma khalifah ke-5 Daulah Abbasiyah ini.

“Ketika tiba-tiba aku dengar ada yang salah pada ucapannya, seluruh wibawa dan kharismanya hilang di mataku,” katanya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bagian IV berisi lelucon-lelucon nahu di kalangan pakar bahasa. Bagian ini memuat 30 kisah, salah satunya berjudul “Jangan Paksa Orang Kelaparan Berbahasa dengan Baik dan Benar”.

Suatu hari, al-Ashma’i mendapati kawasan yang dilanda paceklik. Para penduduknya pun mengalami bencana kelaparan. Lalu dari tengah padang pasir, muncul seorang laki-laki yang tampak sangat kelaparan, tampangnya seperti batang pohon kering kerontang.

Namun lucunya, al-Ashma’i bukan langsung menolongnya, melainkan menanyakan sesuatu tentang Al-Qur’an.

“Apakah kamu bisa membaca Al-Qur’an?” tanya al-Ashma’i.

“Tidak!” jawabnya lesu.

“Mau aku ajarkan?” tanya al-Ashma’i.

“Terserah kamu saja,” jawabnya.

“Oke. Kalau begitu, coba bacalah ayat قُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُوْنَ (Katakanlah, “Wahai orang-orang kafir”).”

Al-Ashma’i mencoba membimbingnya. Namun jawaban laki-laki itu sangat mengejutkan, “كُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُوْنَ (Makanlah, Wahai orang-orang kafir).”

Mendengar hal itu al-Ashma’i langsung menegurnya, “Bukan كُلْ tapi قُلْ.” Lalu lelaki itu menimpalinya, “Aku sudah mengatakannya (كُلْ). Sekarang mulutku tidak bisa mengatakan قُلْ, sebab aku lagi kelaparan.”

Bagian V berisi kisah orang-orang yang “sinis” pada ilmu nahu. Bagian ini memuat memuat 6 kisah, salah satunya berjudul “Ilmu Nahu Dimulai dari Kebohongan”.

Pada suatu hari, Abu Ja’far al-Samsar duduk bersama Bisyr bin al-Harits, seorang ahli hadis yang zuhud. Di tempat tersebut hadir juga seorang ahli hadis bernama al-‘Abbas bin Abdul Adzim al-‘Anbari. Tiba-tiba al-‘Abbas memantik percakapan kepada Bisyr bin al-Harits:

Tinggalkan Balasan