Terakhir, Imam Ahmad bin Hambal. Beliau merupakan salah satu murid dari Imam Syafi’ie. Dalam banyak hal, Imam Ahmad banyak berbeda pendapat dengan gurunya. Meski berbeda, beliau tidak serta mengklaim pendapat dirinya adalah yang paling benar. Sekali lagi, pendapat beliau melihat situasi dan kondisi yang berbeda dengan gurunya.
Semenjak ditinggal ayahnya, ibunya mendidik dan membesarkan Ahmad bin Hambal seorang diri. Meski banyak lelaki yang berusaha mendapatkan cintanya, ibunya menolak agar perhatiannya kepada putranya tidak terbagi. Ibunya juga menanam nilai luhur Islam dalam lubuk hati putranya sejak usia kanak-kanak (185).

Maka, dasar dasar ilmu agama yang sudah dikuasai sejak kecil menjadikan Ahmad bin Hambal menjadi pelajar yang semangat dan gigih.hingga akhirnya beliau berguru kepada Imam Syafi’ie.
Empat imam tersebut semuanya hidup pada tahun-tahun yang berdekatan, dengan pikiran yang cemerlang, laksana untaian emas langka dalam rangkaian cahaya. Mereka hidup dalam kurun waktu satu abad, pada akhir masa Bani Umayyah dan awal Dinasti Abbasiyah. Mereka mengalami cobaan dan ujian, namun mereka tidak mundur dari pandangan mereka, dan tidak pula menundukkan kepala (302).
Walau berbeda pendapat, mereka tetap menghargai pendapat ulama sezaman dan ulama pendahulunya. Mereka sangat menghargai ilmu, beradab sebagaimana ilmu yang mereka miliki.
Data Buku
