Kisah Musa dan Khidir, Relasi Syariat dan Hakikat

Dari kisah Musa dan Khidir, betapa banyak manusia yang bertindak sebagaimana Khidir bertindak; membunuh orang dengan dalih kemaksiatan dan menyelamatkan mereka agar tidak terus menerus larut dalam jurang kemaksiatan. Namun yang ironis, mereka tidak punya legalitas tindakan itu dari Tuhan secara langsung, seperti yang Khidir katakan pada Musa As: “Wama fa’altuhu ‘an amri.”

Apa yang diucapkan oleh Khidir kepada Musa memang benar adanya, tapi tidak bisa secara semena-mena, ketika melakukan kemaksiatan, kita menuduh Allah Swt sebagai dalang. Apa yang terbesit dibenak kita untuk membunuh musuh, misalnya, bukanlah bagian dari takdir bahwa kita akan membunuh, tetapi bentuk dari bujuk rayu setan agar kita terjerumus dalam kejahatan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Selamanya, meskipun setinggi apa pun derajat kita saat ini, ingatlah, maqom makrifat tiada dapat dicapai sebelum melewati maqom syariat. Tegasnya, syariat adalah sesuatu yang harus dilakukan menurut tuntutan hukum, tidak boleh semena-mena. Kita bukanlah Nabi Khidir, yang mempunyai “otoritas” untuk memandang masa depan, atau seperti para auliya Allah Swt yang telah dibuka tabir mata hati mereka sehingga mencapai maqom wushul.

Wallahu a’lam bisshowab…

Tinggalkan Balasan