“Politik, sosial, budaya. Apa lagi….”
“Tentang cinta-romansa, tren anak muda, isu radikal agama, trending twiter?”

“Picisan! Picisan semua! Buat apa aku menulis jika tidak berbekas moral kepada pembacanya.” Sulkan mengungkapkan ketidakpuasannya.
“Loh, bukankah itu semua yang ingin dibaca audiens?”
“Iya. Tapi, antara kebenaran dan kepalsuan beda tipis. Kepalsuan yang jamaah akan dianggap kebenaran. Minoritas akan kalah!”
Sambil menyeruput kopinya yang sudah dingin, Mahardika, teman ngopi Sulkan, tergelak.
“Ha-ha-ha… masih saja idealis! Kawan, zaman sudah berubah, begitu juga ragam tulisan. Kita sebagai penulis juga harus pintar-pintar menatap pangsa pasar, Sul….”
“A-ma-te-ur! Aku kira kamu sudah menjadi penulis kawakan. Yang tidak mementingkan postingan karena semua sudah pernah ditulis dan ditulis lebih baik daripada kamu. Cinta, tragedi, petualangan sudah terwakili oleh Shakespeare, Tolstoy, Pramoedya, Cak Nun, Taufik Ismail… kecuali kamu memunyai sesuatu yang benar-benar baru untuk dikatakan. Jika begitu, pelajari akuntansi!”
Mahardika dengan gusar membentak, “Konyol! Bukankah setiap emosi tidak pernah persis sama. Tidak ada yang melihat cinta dan benci sama persis seperti kau melihatnya.”
“Tetap tidak baru! Halusinasi! Argumen yang kamu kemukakan ketika terkena virus blockwriting… Amatir pasti akan membela diri.”
“Whatever, Sul. Penulis yang menyandarkan diri dari menulis adalah nekad! Catat baik-baik omonganku!”
“Raleris!!”
Sulkan menyudahi obrolannya seraya meninggalkan warung kopi. Badannya lelah, apalagi otaknya. Ia ingin pergi menemui orang tuanya. Mungkin dari sana ia akan mendapatkan ketenangan batin. Setidaknya, menghindari keramaian.
Sulkan menemui ayahnya di ruang tamu. Seorang ayah yang dianggap selalu bijak oleh Sulkan. Akan berbeda jika ia meminta pendapat kepada ibunya. Yang terjadi sudah bisa ditebak. Si pengeluh mengeluh kepada seseorang, yang dikeluhi juga akan mengeluh. Ibu Sulkan akan berbalik mengeluh.
“Pak! Apakah aku salah dalam memilih profesi sebagai penulis?” Sulkan mengawali.
“Ini tentang apa, nak? Jika tentang profesi, pasti hubungannya dengan materi. Materi pasti akan berkorelasi dengan rumah tangga. Betul begitu?”
Tanggap! Rupanya sang ayah merasakan kegundahan Sulkan. Peka, karena pengalaman yang tentu saja telah berayun bersama umurnya.
“Benar, Ayah! Menjadi penulis sangatlah sulit. Logis dan logistik sahabatku pernah menasihatiku. Setia berpikir logis, namun logistik juga harus terpenuhi.”
“Dan nasihat itu kamu abaikan?” ayah Sulkan mencoba menebak.
“Mengeluh dan berharap menjadi beda tipis,” sang ayah melanjutkan. “Mengeluh yang menjadikan manusia tidak bersyukur, itu yang dilarang. Mengeluh bisa menjadi doa. Maka sisipkan pengharapan dengan bersandar kepada-Nya.”
Sulkan mendengar saksama. Ia teringat istri setianya. Yang selalu sabar dan menerima seberapa pun yang disodorkan. Sedikit banyak tetap tersenyum kecil. Sulkan memandang jam dinding yang terpaku pada tembok tua rumah yang ia tempati dulu. Waktu, iya waktu. Sulkan menangis. Betapa waktu ia habiskan untuk sekadar mencari ide buat ditulis. Istrinya mengeluh? Bukan, mengingatkan lebih tepatnya. Kebersamaan tidak butuh lamanya waktu, tapi kualitas ketika bersama. Sulkan terguguk, ayahnya mengusap punggungnya untuk memberikan sedikit kehangatan.
Peristiwa beberapa bulan ke depan membuat Sulkan berbeda. Realitas yang tampak membuatnya sedikit mengubah prinsip idealismenya. Bahwa, penulis yang melewati tahapan membaca, berpikir, dan berkreasi lewat tulisan membutuhkan waktu. Di sela ia tetap menjadi penulis, Sulkan membantu istrinya berjualan online tanaman hias yang memang lagi tren di masa sekarang. Istrinya merasa bahagia. Apalagi, pandemi ini membuatnya ia positif. Positif hamil karena kualitas waktu kebersamaannya dengan Sulkan.
Nasib baik. Seorang editor dari salah satu media yang sering ia kirimi naskah menghubunginya. Ia diminta untuk membantu menyortir, mengedit, dan merekomendasi beberapa karya yang dikirimkan. Menginformasi balik untuk mendapatkan persetujuan agar dimuat. Ya, Sulkan kini selain penulis juga menjadi editor freelance, tentu saja dengan vakasi yang lumayan.
