Mulanya, sang istri takut jika Sulkan akan kembali dengan sifatnya dulu. Namun, karena diyakinkan dengan sangat, akhirnya pekerjaan editor freelance diterima Sulkan.
Sepekan, dua pekan, sebulan, dan beberapa bulan kemudian Sulkan mulai berubah seiring usia kandungan istrinya yang juga semakin dekat menuju kelahiran.

“Mas,” kata sang istri sambil mengelus perutnya.
Sulkan tidak menanggapi. Ia sibuk dengan laptop di petak sempit yang dibuat menjadi ruang kerjanya. Memang, kini Sulkan jarang keluar untuk observasi. Ia menghabiskan waktu untuk berlama-lama menatap laptop menyeleksi karya yang dikirimkan untuk mendapatkan rekomendasinya.
“Mas,” panggil istrinya sekali lagi.
“Eee… Ada apa?”
“Sore nanti bisa antar aku periksa ke bidan ya. Waktunya untuk diberi pil tambah darah.”
“Sore nanti? Besok pagi saja gimana?”
“Nggak enak mas, kemarin sudah aku batalkan janji dengan bidannya. Karena mas tidak bisa antarkan. Masa sore nanti aku batalkan lagi. Bisa, ya mas?”
“Aduhh, beli di apotek saja bisa, kan?”
“Bisa mas. Tapi kandungan ini juga perlu diperiksa. Detak jantung, berat badan, dan lain-lainnya mas. Aku takut. Ini kan hamil pertamaku.”
“Aku sekarang editor. Nasib orang yang mengirim ini seolah berada di tanganku. Jika aku rekom, maka ia akan dimuat, karena dimuat ia akan dihonor. Pekerjaanku ini sangat penting. Dan sore ini aku harus mengirimkan lengkap dengan editannya.”
“Mas, aku salah sangka selama ini. Penulis itu penipu paling ulung. Menggunakan keahliannya yang lihai untuk menjual angan-angan, terutama wanita. Aku buktinya!”
Sulkan ganti terperanjat. Bagaimana istrinya menemukan kata-kata itu. Segera ia menutup laptop dan menuntun istrinya ke ruang tamu.
“Ulangi kata-katamu tadi!” hardik Sulkan kepada istrinya.
Sang istri diam saja tidak menyahut.
“Ulangi lagi!!! Perkataanmu merendahkan martabat penulis!”
Istrinya menyahut dengan tatapan mata yang tajam, “Penulis? Memangnya itu profesi, pekerjaan, lokakarya? Menulis dijadikan mata pencaharian utama? Mas, mas, semua orang bisa menjadi penulis. Tidak perlu jurusan sastra, kiai pondok pun bisa menjadi penulis. Dokter hewan, lulusan teknik, buruh pabrik, siapa saja bisa menjadi penulis. Best seller malah…” istrinya dengan begitu lugas berganti menceramahi Sulkan.
“Dasar awam! Meski penulis awalan meniru dan yang sudah berpengalaman mencuri ide, kuakui itu! Tapi tidak sepicik pikiranmu! Mereka tetap berkarya! Kini, tanamanmu urusi saja sendiri, aku tidak punya waktu karena posisi penting pekerjaanku!”
Sang istri tidak ingin melanjutkan debatnya. Ia hanya terisak sambil mengelus perutnya. Kiranya kesabaran itu meski tidak terbatas, tetapi ukuran kenormalan manusia akan menggeliat. Sulkan meninggalkan ruang tamu untuk kembali tenggelam dalam ruang kerjanya.
Menjelang sore, Sulkan pergi ke luar rumah. Rupanya ia jenuh juga menyeleksi dan mengedit beberapa karya. Ia sudah lama tidak menulis. Maka, ia putuskan untuk kembali menyusuri gang-gang sempit sekitar rumah kontrakannya. Hampir tengah malam ia baru pulang kembali ke rumah.
Dipanggil istrinya tidak ada sahutan. Ia lelah, ingin dibuatkan kopi panas untuk melepaskan penatnya. Dicari istri di kamarnya, tidak ada. Begitu juga di dapur, kamar mandi, dan ruang belakang. Sulkan mulai khawatir, teringat kandungan dan bakal buah hati yang akan segera ditimangnya.
