Machus melalui I’am dan Jismu meramu kisah persahabatan yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Saling menolong tanpa pambrih. Memberi tidak untuk mengharapkan balasan apa-apa. Melalui kisah Sumardin, Juca berkisah tentang pedagang kaki lima. Tidak puas dengan sayur lontong, beralih pada nasi goreng. Rizki sudah ditentukan oleh Tuhan, tapi kewajiban manusia harus berusaha. Berlatar tempat kumuh dan becek, Juca mencoba berkisah tentang orang-orang kecil dan miskin.
Melalui penglihatan imajinatif, dari bapak tua yang renta tersebab oleh peperangan, Luqman Hakim, menggambarkan suasana batin dan kenyataan melalui seorang pemuda yang kakinya hancur oleh senjata. Setting peperangan seringkali membuat suasana muram, semuram seorang perawat yang memberitahukan bahwa Pak Tua itu buta karena terkena mesiu. Pak Tua berbohong? Entah, karena sangat mungkin terdapat panorama indah dari siluet jiwa yang tertekan. Yang buta karena peperangan.

“Dialog” yang ditulis oleh Eva Maulidyah, ingin mengisahkan tentang suasana malam (Ramadhan) dari sisi lain. Melalui “dialog” dipahami bahwa tidak akan lama lagi Syawal datang. Itu artinya, bulan yang penuh berkah dan kesucian akan pergi. Beruntung, si aku masih diberi peringatan oleh si dia bahwa masih ada beberapa malam lagi untuk lebih fokus dalam ibadah. “Dialog” dalam cerpen ini lebih kepada percakapan batin dan komunikasi imajinasi.
“Harmoni dalam Sinekdoke,” Anang Zunaidi berkisah tentang persahabatan yang beragam etnis dan ras. Namun demikian, perbedaan itu menyatu dalam satu pintu kontrakan untuk bersama. Meski terjadi konflik, pada akhirnya keenam sahabat itu tetap dalam pars pro toto dan totem pro parte; sebagian untuk keseluruhan atau keseluruhan untuk sebagian.
“Cermin Kimin (Kado Ulang Tahunku)” karya Mukhlisin membangun citraan dalam kisah metafor. Selaras dengan “tawa sepatu” dalam cerpen ini ingin dibangun nuansa berkaca diri. Kalau dalam bahasa A Mustofa Bisri (Gus Mus) “Melihat Diri Sendiri.” Buruk muka cermin dibelah adalah perumpamaan terhadap seseorang yang memandang dirinya baik, sementara yang lain jelek. Maka ketika di dalam cermin itu tergambar “kera” atau lainnya, biarpun kaca dipecah dan dihancurkan, karakter diri sebagai pecundang tetap melekat erat. “Bercermin” sebagai bagian dari “Man arofa nafsahu, arofa Robbahu.”
“Doa Orang Gila,” cerpen yang ditulis oleh Nopinta Sigit Widodo ini menceritakan tentang orang kaya yang pailit. Tersebab oleh karakternya yang pemalas, suka berjudi, dan bersikap hidup mewah, Slamet akhirnya bangkrut yang semula kaya raya dengan harta warisan bapaknya. Meskipun terlihat cacat logika dan sesat pikir karena doa orang gila yang dianggap mustajab, namun setidaknya kita mengerti bahwa ikhtiar (Slamet bersembunyi di musala setelah dikejar massa karena akan mencuri motor metik) adalah bagian dari sebuah ikhtiar. Cepat atau lambat perbuatan Slamet yang ingin mencuri motor pasti ketahuan. Tetapi Nopinta Sigit Widodo membangun kisahan agar terjadi dugaan-dugaan bagi pembaca.
