Koneksi

“Sampean kira kami tak mendengar pembicaraan sampean dengan pohon-pohon itu?”

Oh, ucapnya sembari menepuk jidatnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sejak saat itu, pikiran tentang hubungannya dengan tanaman dan ternaknya itu menariknya lebih jauh ke dalam hubungannya dengan sesama manusia. Secara singkat ia menyimpulkan bahwa dalam hubungan dengan sesama makhluk ada semacam timbal-balik antara memberi dan menerima; kadang memberi kadang menerima. Dari sini ia jadi kepikiran, bagaimana hubungannya dengan Sang Pencipta?

Rupanya, demikian pikirnya, dalam hubungan dengan Sang Pencipta, ia hanya menerima. Dalam arti mula-mula ia tidak ada, lalu Tuhan menciptakannya, memberinya berbagai potensi untuk menjalani hidup. Kemudian Tuhan mengajarinya cara menjalani hidup—lewat wahyu yang diberikan kepada Kanjeng Nabi—sebagai pedoman agar ia meraih kebahagiaan hidup, baik kini di dunia maupun kelak di akhirat.

Sebagai penerima, lanjutnya, seharusnya ia berterima kasih kepada Sang Pemberi dengan cara menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Lagi pula, demikian ia teringat guru ngajinya, segala perintah dan larangan-Nya untuk kebaikan makhluk ciptaan-Nya.

Kemudian ia menyimpulkan bahwa hubungan paling utama adalah hubungan dengan-Nya, dan ini yang perlu diperkuat jalinannya. Sementara hubungan dengan sesama makhluk, termasuk dengan sampean—pembaca yang budiman—, ia jalin dalam rangka menjalankan perintah-Nya. Ia jadi insaf, selama ini ia lebih mengutamakan hubungan dengan sesama makhluk ketimbang dengan Sang Pencipta.

Tinggalkan Balasan