Karena sudah tidak canggung ngobrol dengan tanaman, ia menjawab sembari terus menyirami, “Karena setelah sampean sekalian tumbuh besar akan membuahkan kacang panjang yang sehat-sehat untuk saya makan atau saya jual…”
“Seandainya kami tidak menghasilkan kacang panjang, apakah sampean tetap mau merawat kami?”

Cukup tersentak ia dengan pertanyaan ini. Sembari terus menyirami mereka, ia memikirkan jawabannya. Ia cukup beruntung, karena mereka sepertinya telah lupa pada pertanyaan tadi. Mereka tampak bersorak-sorak kegirangan selayak bocah-bocah kecil bermain hujan-hujanan.
Kejadian inilah yang melatarinya ingin bertanya pada ayam-ayam itu. Karena, semalam ia berpikir lama bahwa hubungannya dengan mereka sama dengan hubungannya dengan tanaman kacang panjang. Bagaimana jika mereka sebetulnya pun bisa ngomong dan beranggapan seperti kacang panjang terhadapnya? Maka sebelum ditanya oleh mereka, ia kepikiran untuk bertanya lebih dahulu.
Namun, belum sempat ia bertanya, seekor jago blirik yang beberapa saat tadi tampak berjalan ke arahnya dan kini berdiri dengan begitu jumawa di hadapannya, setelah berkokok dua kali, ujuk-ujuk ngomong, “Sudahlah, tak usah galau, saya—mewakili semua ayam itu—tahu apa yang sedang sampean pikirkan…”
“Oh, ya? Tahu dari mana?”
