Koneksi

Saat lelaki itu mengoleh dedak dengan air di sebuah ember di pekarangan belakang rumahnya, serta-merta ayam-ayam yang baru keluar dari kandang menyerbunya. Cukup kewalahan, buru-buru ia membaginya ke wadah-wadah yang terkapar di tanah—agar mereka tak berebutan. Namun, persis dugaan sampean, mereka tetap berebut (wajar, namanya juga ayam!). Tak lama kemudian, keinginan untuk bertanya pada ayam-ayam itu kembali melintasi benaknya.

Boleh-boleh saja sampean heran. Namun jika memang demikian, sebetulnya ada yang lebih mengherankan: kemarin sore, saat ia menyirami pohon-pohon kacang panjang yang mulai trubus di pekarangan samping rumahnya itu, ujuk-ujuk, secara serempak mereka bertanya, “Wahai orang, kenapa sampean begitu baik—mau-maunya menyirami kami?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mula-mula hampir-hampir copot jantungnya. Namun seusai berpikir bahwa mereka pun makhluk—sebagaimana dirinya diberi kemampuan bicara oleh Gusti Allah Ta’ala—, ia dapat menenangkan diri lalu menjawab, “Agar sampean sekalian tumbuh subur, sehat walafiat…”

“Kenapa sampean ingin kami tumbuh besar sehat wal, wal apa tadi…?”

“Walafiat,”

“Ya, walafiat?”

Tinggalkan Balasan