Korban Gus Bar

“Ning Ainun …,” tiba-tiba para santri putri itu meneriakkan sebuah nama. Sontak dada Gus Bar berdetak tak karuan. Ia kebingungan, mencari sosok yang sedang dipanggil gadis-gadis itu.

Tampaklah di sudut gang asrama putri seorang gadis berkerudung ungu mengenakan sweater berwarna marun tengah menggendong seorang anak kecil. Dia menimpali para santriwati itu dengan seulas senyum. Memesona sekali. Gus Bar berdiri memaku memandangnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Malam tanggal delapan Zulhijjah Gus Bar bermimpi menikahi Ning Ainun, kemudian menjalani ritual malam pertama dengan perempuan cantik itu. Amboy, perasaan Gus Bar melayang-layang bahagia dibuatnya. Ini merupakan hari tarwiyah yang sangat berkesan dalam hidupnya. Mimpi saja seindah itu, apalagi kalau sampai menjadi nyata?

Tanggal sembilan bulan Haji Gus Bar mengantar kambing ke pesantren milik Gus Dul. Dia ikat hewan kurban yang memiliki kotoran berupa butiran-butiran hitam itu di sebelah Masjid. Dan jantung pemuda itu seketika berdegup aneh tatkala dari kamar mandi masjid muncul sesosok makhluk cantik. Adalah Ning Ainun yang memamerinya dengan senyum merekah nan indah.

Benar-benar hari arofah, Gus Bar melihat senyum dalam mimpi itu begitu nyata. Dia menelan ludah berkali-kali seraya menahan amukan perasaannya. Perempuan cantik itu lantas beringsut pergi.

Hari Nahr pun tiba. Gus Bar salat ied di masjid Gus Dul. Dia dipercaya menjadi khotib oleh kiai muda itu. Seusai salat ied, Gus Bar mengikuti prosesi tabhiyah. Ia tuntun kambingnya menuju para jagal tidak jauh dari masjid. Kambing itu terbilang besar jika dibanding kambing lainnya. Maka Gus Bar melangkah dengan gagah, walau ada sedikit bau kambing yang kini melekat di tubuhnya.

Namun tiba-tiba suasana jadi begitu gaduh tatkala muncul Gus Ad di tengah keramaian itu.

“Edan! Jangan kau sembelih adikku!” pekik Gus Ad tiba-tiba.

“Jangan kau korbankan adikku!” Gus Ad semakin menjadi- jadi.

Semua yang hadir kebingungan. Apalagi Gus Bar. Tali yang mengikat kambing di genggaman Gus Bar kemudian direbut oleh Gus Ad.

“Lepaskan adikku!” pekiknya lagi.

Orang-orang mulai bertanya-tanya. Kenapa kiranya orang jadzab itu melakukan hal demikian? Bukankah Gus Ad yang aneh itu memiliki penglihatan mata batin yang ketajamannya bisa menembus hijab-hijab hati? Bukankah perilaku aneh putra mendiang Kiai Syukri itu selalu menjadi pertanda sesuatu? Lalu apakah itu?

“Mungkin Gus Bar berkurban untuk mendapatkan hati Ainun, adik Gus Ad?” celetuk seseorang. Orang-orang pun kemudian membenarkan ucapan itu.

Gus Bar lalu menuntun pulang kambing itu beserta seluruh bau-bau yang melekat dalam tubuhnya. “Nggak jadi kurban kambing, malah korban perasaan,” rutuknya dalam hati.

Mentaraman, 8/8/20.

Tinggalkan Balasan