“Dekat lagi. Depan situ. Harusnya belum berhenti di sini. Coba kamu lihat di depan, Mbon,” Takim menyuruh Ambon yang duduk di belakangnya untuk turun. Mobil yang dinaiki Takim ada di mobil kedua. Di depan ada mobil yang membawa barang-barang bantuan yang tiba-tiba berhenti.
Tak berapa lama kemudian Ambon telah kembali.

“Ada orang gila, Mas,” ucapnya dengan napas terengah-engah.
“Kenapa harus berhenti jika ada orang gila?”
“Orang gilanya ngamuk, Mas. Kita dilarang datang.”
Kening Takim mengernyit. Dia turun dan melihat apa yang sedang terjadi di pesantren. Rupanya Gus Ad sedang marah-marah di gerbang, di depan mobil barang. Dengan hanya memakai celana pendek mulutnya memaki-maki. Mobil yang membawa bantuan itu diancam dengan sebilah kayu besar di tangan. Namun kemudian muncul Gus Dul meredamnya. Orang jadzab itu dibawa ke belakang. Keadaan pun perlahan tenang kembali. Rombongan Takim bergerak maju.
Usut punya usut, Gus Ad tadi meneriaki rombongan karena dikira mau menghancurkan pondok. Tidak tanggung-tanggung, beberapa santri diajaknya menghadang mobil itu. Keadaan sempat ricuh sebelum ditenangkan oleh Gus Dul. Orang kampung pun banyak yang keluar rumah menonton kericuhan itu.
Keesokan harinya pesantren itu dihebohkan dengan kabar beberapa santri yang keracunan. Setelah ditelisik ternyata yang keracunan adalah mereka yang memakan beras bantuan dari Takim. Untungnya para santri itu masih bisa diselamatkan. Beras itu ternyata memang stok lama yang ngendon di rumah Takim. Tidak hanya beras, mie instan yang diberikan ternyata sudah kadaluwarsa. Beberapa pengurus pesantren pun bertandang ke rumah Takim untuk klarifikasi. Pucat pasi muka putra anggota DPRD itu menanggapi tudingan mereka. Harapannya untuk memiliki Ning Ainun pupus sudah.
Sejak saat itu Takim tak berani lagi mendekati Ainun. Namun bukan berarti daya tarik bungsu Kiai Syukri itu telah pudar. Hanya belum ada yang bisa menaklukkan hatinya. Padahal sudah ada banyak lamaran yang datang untuk mempersunting dirinya.
Seorang putra kiai ternama tetangga kecamatan mendengar juga berita tentang para santri yang keracunan itu. Kabar itulah yang mengantarkannya pada sosok Ning Ainun. Dia makin penasaran pada gadis itu karena banyaknya orang yang menceritakan kecantikannya. Gus Bar telah mencari akun instagram Ainun dan setelah berhari-hari mencari ternyata tak juga kunjung ditemukan.
Untuk menjawab rasa penasaran itu dia salat Jumat di masjid Gus Dul. Kebetulan sekali Ainun baru pulang dari pasar. Dugaan Gus Bar tepat. Dia memang Ainun yang dicarinya itu. Gus Bar mentashih prasangkanya pada seorang santri Gus Dul.
Gus Bar memantabkan diri dengan pilihan itu. Sudah lama dia mendamba seorang perempuan untuk melengkapi kekosongan hatinya. Dan sebelum benar-benar melamar putri Kiai Syukri itu, Gus Bar bermaksud memperkenalkan diri dan berkenalan dengan gadis pujaannya. Dia memanfaatkan momen Idul Adha untuk berkurban di pesantren Gus Dul sebagai wasilah taarufnya.
“Kenapa kok jauh-jauh berkurban di sini Gus?” tanya Gus Dul pada Gus Bar di ruang tamu. Ia amati pemuda itu, menguak penasaran yang bercokol di kepalanya.
“Di pesantren kami sudah terlalu banyak hewan kurban, Gus. Dan saya dengar lingkungan sekitar sini lebih membutuhkan tambahan hewan kurban daripada tempat kami,” Gus Bar menjawab setelah terdiam beberapa sesaat.
Gus Dul mengangguk paham. Setelah menghabiskan segelas teh yang disuguhkan padanya, kemudian pulanglah Gus Bar dengan membawa secercah harapan. Wajah Ainun yang penuh pesona terpampang jelas di benaknya.
Ketika berpapasan dengan barisan santri putri yang tengah berjalan menenteng kitab, cepat-cepat matanya mengawasi. Mungkinkah ada Ning Ainun di antara mereka?
