Jalan dakwah melalui macapat juga sebagai salah satu media dakwah yang mudah dan menyenangkan yang diterapkan oleh para sunan. Kata macapat sendiri memiliki bermacam-macam makna. Ada yang memaknai bahwa macapat berkaitan dengan cara melagukannya, yakni empat-empat, pemberhentian napas setiap empat-empat suku kata. Ada juga yang menafsirkan bahwa macapat berarti maca cepat (moco cepet: membawa cepat), yang mengalami perubahan sedikit, yakni dari pat menjadi pet (cepet).
Saat itu, macapat ini menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat Jawa, karena macapat berisikan tembang-tembang yang tentunya memiliki banyak makna. Tembang-tembang yang tersebut, misalnya Mijil, Pangkur, Kinanthi, Dhandanggula, Sinom, Asmaradana, Megatruh, Durma, Maskumambang. Setiap tembang dari macapat memiliki makna tersendiri yang berkaitan dengan esensi ajaran Islam.

Itulah sedikitnya beberapa integrasi antara Islam dengan Jawa. Islam sebagai agama yang membaur atau beradaptasi sesuai dengan lingkungan, karena yang terpenting dalam beragama bukanlah bagaimana bersikap seolah-olah beragama, namun menjalankan esensi dari ajaran agama tersebut.
Budaya bukan sesuatu yang harus dipertentangkan dengan agama. Karena cakupan agama begitu luas, maka sudah sewajarnya apabila agama mampu diintegrasikan dengan budaya. Islam memang lahir di Arab, tapi bukan berarti ketika Islam masuk ke Jawa, orang Jawa harus berbudaya sesuai dengan tempat lahirnya Islam. Budaya ibaratkan wadah, sedang Islam adalah air atau isinya.
Maka, bagaimana bentuk wadah tersebut, Islam mampu menyesuaikan bentuk dari wadah yang ditempatinya, sehingga tidak ada pertentangan dari keduanya, kecuali kalau wadah berisi air dimasukkan ke wadah lain yang berbeda bentuk, maka akan ada hal yang kurang pas di antara kedua wadah tersebut. Cara yang benar adalah memindahkan air tersebut, bukan memindahkan beserta wadahnya ke wadah lain. Seperti itulah ibarat antara budaya dengan agama.
Dari paparan tersebut kita bisa metarik kesimpulan, bahwa agama itu bersifat fleksibel, mampu beradaptasi sesuai dengan situasi dan kondisi yang terdapat di sekelilingnya. Agama juga bersifat tantularistik (terbuka), sehingga tidak ada paksaan dalam agama, sebagaimana firman Allah, laa ikraaha fi addiin. Demikian yang dapat disampaikan oleh penulis, semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Aamin.
