Melalui dominasi ini, manusia semakin menuntut banyak terhadap alam, didukung dengan nafsu dan ketamakan yang tak kunjung berakhir akan sesuatu yang diangggap sebagai kebutuhan, padahal sering kali hanyalah sebuah keinginan belaka.
Dominasi ini akan memunculkan sifat binatang dalam diri manusia dan menghilangkan dimensi spritualnya. Dominasi ini juga berarti bahwa alam telah tersekulerisasi; dipandang hanya sebagai sumber materi tanpa nilai spiritual yang sejatinya harus dihormati dan dijaga. Sekularisme membuat manusia semakin jauh dari agama sebagai sumber spritual, sehingga manusia kehilangan rasa tanggung jawab terhadap alam.

Dalam analogi Nasr, alam yang seperti ini telah dipandang oleh masyarakat modern sebagai “pelacur” —dimanfaatkan tanpa ada arti kewajiban dan tanggung jawab. Sebaliknya, jika ketika menelisik melalui kacamata masyarakat tradisional, alam diperlakukan bagai seorang “istri” di mana seorang suami memikul tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan memeliharanya.
Alam sebagai manifestasi Tuhan
Dalam bukunya, Islam, Sains, dan Muslim: Pergulatan Spiritual dan Rasionalitas, Seyyed Hossein Nasr mengungkapkan bahwa Alam adalah manifestasi dan refleksi dari kebesaran serta keagungan Allah. Bahkan, Nasr beranggapan bahwa alam memiliki posisi yang setara seperti ayat al-Quran, yaitu sebagai tanda kekuasaan Allah. Perbedaanya hanya tertetak pada bentuk, yakni al-Quran tersusun dalam bentuk tulisan sedangkan alam tidak. Dengan demikian, sebagaimana Al-Qur’an tidak boleh diperlakukan secara semena-mena, alam pun harus dijaga. Aktivitas manusia hendaknya berorientasi pada pelestarian, bukan perusakan alam.
