Al-Quran sendiri mengajarkan manusia untuk menjalin cinta dengan alam sehingga manusia dapat memelihara dan mengembangkannya serta menjauhkan semua hal yang dapat mengganggu kelestarian alam. Al-Quran juga menggambarkan bahwa tanah dan tumbuhan pun memiliki rasa sebagaimana manusia, maka wajar jika Islam menuntut manusia untuk bersahabat dengan alam. (Shihab, 2023, hlm. 88-87). Bahkan, benda-benda mati pun dianjurkan untuk diberi kasih sayang, hal ini terlukiskan pada sabda Nabi di tengah-tengah bergolaknya perang uhud: “Gunung Uhud mencintai kita dan kita pun mencintainya.” (HR. Muslim).
Demikianlah Islam mengajarkan kita untuk hidup dengan penuh kasih sayang dan bersahabat dengan alam, tidak hanya kepada makhluk hidup namun, juga terhadap benda-benda tak bernyawa. Nabi Muhammad saw. sendiri sering memberi nama-nama indah untuk benda atau alat sehari-hari beliau. Misal pedang beliau diberi nama dzu al-fiqar, cermin beliau al-midallah, gelas minum beliau ash-shadir, dan sebagainya, menunjukkan bahwa benda-benda tersebut seakan memiliki roh atau kepribadian yang seharusnya juga dicurahkan rasa kasih sayang dan mereka juga mendambakan persahabatan. (Shihab, 2023, hlm. 90).

Untuk mengatasi krisis lingkungan, manusia harus mengembalikan dimensi spiritual dalam kehidupan mereka. Alam seharusnya tidak hanya dipandang dari sisi ilmiah dan material saja, tetapi juga sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang memiliki nilai intrinsik. Manusia perlu menyadari bahwa dia memiliki tanggung jawab atas setiap tindakannya yang memengaruhi lingkungan.
Dengan mengembalikan kesadaran ini, kita dapat meneguhkan kembali peran kita sebagai khalifah yang selaras dengan alam; menjaga bumi bukan hanya sebagai pengguna yang egois, melainkan sebagai penjaga yang penuh kasih dan hormat terhadap ciptaan Tuhan.
Singkatnya, krisis lingkungan yang kita alami hari ini berakar pada krisis cara pandang manusia terhadap alam. Ketika alam hanya dilihat sebagai sumber keuntungan, kerusakan pun tak terelakkan. Sudah saatnya kita memulihkan kesadaran spiritual agar alam kembali diperlakukan secara terhormat. Dengan begitu, manusia dapat menjalankan perannya sebagai penjaga bumi, bukan perusaknya. Jejak kecil berupa kesadaran spiritual untuk menjaga alam hari ini adalah tabungan dengan dampak besar untuk keberlanjutan bumi esok hari. Wallahul musta’an.
