Namun, masuknya kita ke era digital mengubah lanskap otoritas secara drastis. Teori “masyarakat informasi” yang dikemukakan oleh Manuel Castells menjelaskan bagaimana kekuasaan kini berpindah dari tangan lembaga formal ke jaringan. Siapa pun bisa menjadi sumber informasi—dan secara bersamaan, siapa pun bisa menggugat informasi lain, tanpa bekal etika maupun pengetahuan yang memadai.
Akibatnya, publik tidak lagi disuguhkan kebenaran yang kokoh, melainkan kebenaran yang dikurasi oleh algoritma. Popularitas menjadi lebih menentukan daripada kredibilitas. Di media sosial, kita bisa dengan mudah menemukan figur yang mendadak menjadi influencer moral karena kepiawaian merangkai opini, meski tanpa landasan teori, pengalaman, atau tanggung jawab sosial.

Gejala ini tidak berhenti pada ranah opini publik. Dalam dunia politik, agama, bahkan akademik, kita melihat figur-figur publik yang kehilangan wibawa bukan karena kekurangan gelar, tapi karena kehilangan kompas moral. Mereka mungkin tetap mengutip ayat atau teori, tetapi keputusan dan sikap mereka sering kali tunduk pada kepentingan jangka pendek. Seperti kata Zygmunt Bauman, kita hidup dalam modernitas cair, di mana fondasi moral tak lagi kokoh, melainkan mudah larut oleh arus zaman.

Tulisan sangat berbobot. Penting untuk lebih ditindaklanjuti oleh pihak yang terlibat… Tulisan ini juga menjadi koreksi bagi kita untuk tetap menjadi pribadi yang mementingkan kredibilitas daripada popularitas….keren tulisannya mas Zen