Krisis Spiritual, Derita Masyarakat Modern

Sebagai antitesis, modernisme menawarkan paradigma baru yang ciri utamanya adalah humanisme, empirisme, rasionalisme, individualisme, dan terlepas (bebas) dari pengaruh agama. Artinya, manusia pada era ini tidak mau diatur oleh agama. Alhasil, standar-isasi kebenaran acapkali merujuk pada pemikiran rasional-empiris-positivistik. Dan produk pemikiran ini adalah lahirnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sayyed Hossein Nasr, misalnya, menyatakan bahwa akibat masyarakat modern yang terlalu mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan mereka berada dalam krisis spiritual. Akibatnya, mereka mengalami kehampaan, kegelisahan, disorientasi, ketidakbahagiaan, dan akhirnya bunuh diri. (Ahmad Sidqi, Wajah Tasawuf di Era Modern; Antara Tantangan dan Jawaban, hlm. 7)

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Emanuel Wora juga menyatakan bahwa semangat kemodernan melahirkan realitas labil yang dapat membuka peluang besar bagi manusia untuk jatuh pada pengalaman keretakan atau keterpecahan pada tataran eksternal (kehidupan sosial) maupun dalam tataran internal (dalam diri manusia). (Emanuel Wora, Perennialisme; Kritik atas Modernisme dan Postmodernisme, hlm. 50)

Realitas ini ditandai oleh beberapa ciri. Pertama, pemisahan antara konsep etika dan epistemologi dengan dunia dan tubuh (realitas material), serta mengedepankan pandangan instrumental terhadap kedua faktor (dunia dan tubuh).

Kedua, diskontinuitas, yaitu ketika pola hidup baru yang muncul dalam era kemodernan tengah menggantikan atau bahkan menghilangkan segala pola lama yang bernuansa tradisional. Ketiga, pencabutan posisi sentral realitas Ilahi (Tuhan) dalam kehidupan manusia dan dunia.

Sementara itu, Donald Walters menyatakan bahwa akibat dari kondisi modernitas, manusia mulai merasakan kebutuhan akan suatu dasar yang kuat bagi moralitas mereka, yang tidak didapatkan dari ilmu-ilmu fisik. Dan pada akhirnya mereka mengakui bahwa dibutuhkan kekuatan yang melampaui realitas untuk kembali menyatukannya, yakni kembali pada ilmu pengetahuan tradisional (mistisisme). (Donald Walters, Crises in Modern Thought: Menyelami Kemajuan Ilmu Pengetahuan dalam Lingkup Filsafat dan Hukum Kodrat, terj. B. Widhi Nugraha, hlm. 10)

Tinggalkan Balasan