Solusi Krisis Masyarakat Modern
Kondisi yang melanda sebagian besar masyarakat modern ini memunculkan sebuah gejala baru, bahwa manusia mulai beralih pada dimensi esoterik sebagai pilihan hidup menghadapi kebuntuan di tengah modernisme. Spiritualitas (tasawuf) pun kian menjadi tema yang seksi dan primadona baru dalam kajian agama.

Dari sinilah kemudian mistisisme (tasawuf) menawarkan sesuatu yang lebih mendalam dari sains karena tidak mengabaikan pandangan lain. Artinya, dunia tasawuf memiliki kesatuan pandangan dalam permasalahan yang esensial dan substansial; dengan menyatakan bahwa pencapaian hakikat segala sesuatu hanya dengan metode intuisi mistikal dan jalan-jalan penyucian jiwa, bukan dengan penalaran dan argumentasi rasional.
Pun, pencapaian kondisi yang demikian ini memerlukan latihan batin dan perjalanan spiritual. Karena tanpa melalui jalur ini, mustahil hati dan jiwa manusia bisa menerima pancaran cahaya-cahaya suci. Lebih jauh lagi, Abdul Muhaya dalam tulisannya bertajuk “Peran Tasawuf dalam Menanggulangi Krisis Spiritual” mempertegas bahwa dimensi tasawuf dapat dijadikan sebagai terapi krisis spiritual yang melanda sebagian masyarakat modern, karena beberapa alasan.
Pertama, tasawuf secara psikologis merupakan hasil dari berbagai pengalaman spiritual dan merupakan bentuk dari pengetahuan langsung mengenai realitas-realitas ketuhanan yang cenderung menjadi inovator dalam agama. Kedua, kehadiran Tuhan dalam bentuk pengalaman spiritual (mistis), seperti makrifat, itihad, hulul, mahabah, dan lain sebagainya, dapat menimbulkan keyakinan yang sangat kuat atau menjadi moral force bagi amal-amal saleh. Dan ketiga, dalam tasawuf, hubungan seorang hamba dengan Allah dijalin atas rasa kecintaan. Sehingga bagi seorang sufi, Allah bukanlah Dzat yang menakutkan, tetapi sebagai Dzat yang sempurna, indah, pengasih dan penyayang, kekal, al-Haq, dan selalu hadir kapan pun dan di mana pun. (Abdul Muhaya, Peran Tasawuf dalam Menanggulangi Krisis Spiritual, hlm. 24-26)
Dengan demikian, jelaslah bahwa kehadiran tasawuf di tengah kehidupan modernisme berupaya untuk mengobati penyakit yang melanda masyarakat modern (krisis spiritual), yang diakibatkan oleh paham modernisme dengan rasional-empiris, positivis-nya yang lebih mendahulukan akal daripada spiritual. Karena tasawuf secara seimbang memberikan kesejukan antara keduanya sekaligus. Pun juga bisa dipahami sebagai instrumen pembentuk tingkah laku melalui pendekatan suluk, dan mampu memuaskan dahaga intelektual; mengantisipasi arus modernisasi yang serba kompleks dan kompetitif ini. Wallahu A’lam.
